Asmara Berdarah, by Kho Phing Hoo 1/1006 | Next page |

ASMARA BERDARAH Karya Kho Ping Ho JILID 8


Kota Ceng-tao terletak di tepi laut, merupakan sebuah kota pelabuhan yang besar di Propinsi Shan-tung. Setiap hari perahu-perahu dagang yang besar berlabuh di situ, ada yang datang membawa barang-barang dagangan dari luar daerah, bahkan dari luar negeri ke kota itu, ada pula yang mengangkut barang-barang dari dalam keluar. Bukan hanya perdagangan yang meramaikan kota Ceng-tao, akan tetapi juga hasil penangkapan ikan di laut daerah pelabuhan itu amat baik sehingga pantai itu penuh pula dengan perahu-perahu nelayan dan terbentuklah sebuah pasar ikan di tepi pantai.

Biasanya, sejak pagi sekali, pantai itu telah sibuk, terutama sibuk dengan para nelayan yang baru pulang dari tengah la-utan di mana mereka bekerja, semalam suntuk menangkap ikan, membawa hasil penangkapan ikan mereka yang meme-nuhi perahu mereka. Bau amis ikan-ikan mati akan memenuhi tempat itu, dan bu-kan hanya lalat-lalat yang merubung, akan tetapi juga manusia-manusia yang berebutan melelang ikan-ikan itu untuk dijual kembali ke pasar dan memperoleh untung yang kadang-kadang lebih besar daripada para nelayan itu sendiri.

Kadang-kadang nampak pula peman-dangan yang mengharukan, menyedihkan den mendatangkan rasa penasaran dalam hati. Sebagian besar para nelayan itu ha-nya alat-alat belaka dari para juragan yang melepas uang untuk memberikan perahu-perahu, jala-jala den alat-alat perlengkapan yang baik untuk menangkap ikan. Dan mereka inilah yang menentu-kan harga jika para nelayan kembali da-ri tengah laut. Harga ditekan sedemikian rupa dan para nelayan tidak berani me-lawan karena mereka telah terbenam da-lam hutang setinggi leher. Selain itu, para juragan itu membawa tukang-tukang pukul yang galak dan kejam. Tidak ja-rang terjadi pemukulan-pemukulan di te-pi pantai itu oleh para tukang pukul ter-hadap nelayan yang berani membangkang. Ada pula nelayan-nelayan yang menangis karena hasilnya terlampau sedikit untuk dapat menghidupkan keluarganya, apalagi kalau ada anggauta keluarga yang sedang sakit dan membutuhkan uang untuk biaya pengobatan.

Akan tetapi, pada pagi hari itu keadaan di tepi pantai agak sunyi. Hujan te-lah turun sejak malam tadi. Karena hu-jan badai membuat air laut meliar, para nelayan banyak yang terpaksa pulang malam tadi tanpa memperoleh hasil.

Setelah matahari mulai muncul, hujan mereda, tidak selebat semalam, akan te-tapi masih juga turun rincik-rincik. Di kota Ceng-tao sendiri, biarpun pagi itu masih hujan gerimis, namun di jalanan penuh juga oleh orang berlalu-lalang me-makai payung atau memakai caping lebar untuk melindungi diri dari timpaan air lembut yang dingin. Nampak pula gerobak-gerobak yang membawa barang-ba-rang dagangan seperti sayur-mayur, ikan dan sebagainya, berbondong-bondong me-nuju ke pasar yang berada di tengah ko-ta. Ada pula tukang-tukang pikul yang memikul barang-barang berat menuju ke pasar. Mereka ini tidak berbaju dan tubuh yang bagian atasnya telanjang itu tertimpa air hujan. Tubuh yang berkeri-ngat itu menjadi semakin basah. Air hu-jan bercampur air keringat membuat tubuh itu mengkilap, nampak kuat dengan otot-otot menjendol. Namun mereka ti-dak terganggu oleh air hujan yang dingin. Bahkan terasa enak di badan, sejuk dan banyak mengurangi rasa lelah.

Bermacam orang berlalu-lalang di jalan raya menuju ke pasar. Dari keadaan pakaian mereka, dapat diketahui siapa di antara mereka yang pedagang beruang dan siapa yang hanya kuli miskin. Pakaian mereka yang mendatangkan perbedaan itu, bukan hanya pakaian, akan tetapi juga pandang mata dan sikap mereka. Sebagian besar manusia mencerminkan keadaan kehidupan mereka pada sikap dan air muka. Yang kaya, pandai atau berke-dudukan biasanya mengangkat muka ting-gi-tinggi, merasa lebih daripada orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang mera-sa dirinya miskin, bodoh dan tidak ada kekuasaan, banyak menunduk dan meren-dahkan diri.

Asmara Berdarah, by Kho Phing Hoo 1/1006 | Next page |

Leave a Reply