Istana Pulau Es, by Kho Phing Hoo 1/542 | Next page |

ISTANA PULAU ES Karya Kho Ping Ho JILID 5


Kebiasaan lama (tradisi) yang dilanggar akan menimbulkan kutuk dan malapetaka bagi si pelanggar, demikian pendapat kuno. Padahal hakekatnya, semua itu tergantung daripada kepercayaan. Bagi yang percaya mungkin saja pelanggaran akan dihubungkan dengan sebab terjadinya suatu halangan. Sebaliknya bagi yang tidak percaya, juga tidak apa-apa dan andaikata terjadi suatu halangan, hal ini dianggap terpisah dan tidak ada hubungannya dengan pelanggaran tradisi.

Betapapun juga, apa yang terjadi di Khitan, yang menimpa Kerajaan Khitan oleh semua rakyatnya dianggap sebagai kutuk para dewata oleh karena dosa besar yang telah dilakukan oleh Sang Ratu mereka! Kerajaan Khitan mengalami kemerosotan hebat sekali. Musim dingin amat lama dan hebat menimpa kerajaan ini, hasil buruan amat kurang, hasil cocok tanam buruk, penyakit menular, wabah yang aneh-aneh menimpa rakyat Khitan dan semua ini diperburuk dengan bentrokan-bentrokan, yang timbul di antara Para bangsawan sendiri yang memperebutkan kedudukan, di antara rakyat sendiri yang keadaannya amat miskin, dan perselisihan dengan suku bangsa lain karena memperebutkan air dgn daerah subur!

Semua ini adalah kutukan dewa! Demikian anggapan kaum tua di Khitan. Terkutuk oleh dewa karena pelanggaran hebat yang dilakukan oleh Sang Ratu Yalina, yaitu ibunda Raja Talibu yang sekarang menjadi Raja Khitan. Di dalam cerita MUTIARA HITAM telah diceritakan betapa Ratu Yalina itu diam-diam menjadi isteri pendekar Sakti Suling Emas, bahkan secara rahasia pula telah melahirkan dua orang bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Menurut kebiasaan lama bangsa itu, bayi kembar laki perempuan setelah dewasa harus dikawinkan, akan tetapi Ratu Yalina kembali melanggar, tidak menjodohkan kedua anaknya. Yang laki-laki, yaitu Raja Talibu sekarang ini, dijodohkan dengan Puteri Mimi puteri Panglima Khitan. Sedangkan anaknya yang perempuan, yaitu Kam Kwi Lan atau terkenal di dunia kang-ouw sebagal pendekar sakti Mutiara Hitam, menikah dengan Tang Hauw Lam murid Bu-tek Lo-jin dan kini suami isteri itu malah meninggalkan Khitan dan merantau entah ke mana.

Nah, semenjak Ratu Yalina bersama suaminya Si Pendekar Suling Emas, pergi pula meninggalkan Khitan atas kehendak Suling Emas untuk bertapa di puncak puncak Pegunungan Go-bi maka mulailah tampak hari-hari buruk menimpa Kerajaan Khitan! Hal ini bukan sekali-kali karena rajanya, yaitu Raja Talibu, kurang memperhatikan kerajaannya, atau berlaku lalim terhadap rakyatnya. Sama sekali tidak! Raja Talibu agaknya mewarisi watak ayahnya, Si Pendekar Sakti Suling Emas, hatinya tidak keras seperti watak Ibunya. Dia tenang dan sabar mencinta rakyatnya dan memerintah dengan keadilan. Akan tetapi sepandai-pandainya seorang raja, dia hanya seorang manusia juga dan apakah kekuasaan seorang manusia yang dapat dilakukan oleh seorang Raja Talibu terhadap bencana-bencana alam berupa musim dingin panjang disusul musim kering yang menghabiskan air serta tanah yang tidak berhasil menjadi subur? Apakah yang dapat ia lakukan terhadap ketamakan dan nafsu para bangsawan yang saling bermusuhan? Dia hanya dapat menggunakan kekuasaannya untuk meredakan keadaan, untuk mengadili segala perkara dengan bijaksana, namun tidak berdaya menahan lajunya kemunduran kerajaannya!

Raja Talibu dengan isterinya, Puteri Mimi yang cantik jelita, hanya mempunyai seorang anak perempuan mungil dan cantik jelita seperti ibunya, lincah nakal dan penuh keberanian seperti watak neneknya. Anak ini diberi nama Puteri Maya dan pada waktu itu telah berusia sepuluh tahun. Karena ayah bundanya adalah keturunan pendekar-pendekar yang berilmu tinggi, biarpun dia seorang puteri raja, semenjak kecil Maya suka sekali dengan ilmu silat. Raja Talibu sebagai putera pendekar Suling Emas dan Ratu Yalina yang juga memiliki ilmu silat luar biasa, tentu saja tidak melarang puterinya belajar ilmu silat. Sebaliknya ia sendiri malah menggembleng puterinya itu dengan ilmu silat tinggi sehingga Puteri Maya menjadi seorang anak perempuan yang gagah berani dan suka pergi berburu sejak kecil, malah dia mempunyai pasukan pengawal sendiri yang menemaninya pergi berburu binatang buas. Biarpun usianya baru sepuluh tahun. Puteri Maya berani menghadapi seekor biruang seorang diri saja, merobohkan binatang itu dengan anak panah atau dengan sebatang tombak panjang!

Pada suatu pagi yang cerah, Puteri Maya sudah tampak berkeliaran di dalam hutan di sebelah barat kota raja Khitan. Seperti biasa, kalau dia sedang berburu binatang di dalam hutan, dia berpakaian pria yang ringkas sehingga memudahkannya untuk bergerak di dalam hutan-hutan liar itu, apalagi jika bertemu binatang dan melakukan pengejaran atau pertempuran dengan binatang buas. Dan seperti biasa pula, pada pagi hari itu juga, Maya jauh meninggalkan para pengawalnya, hal yang selalu membuat para pengawal menjadi khawatir dan diam-diam merasa jengkel. Namun tidak pernah mereka mengeluh karena sesungguhnya para pengawal, seperti hampir semua orang di Khitan, amat sayang kepada puteri yang cantik jelita ini. Kesayangan semua orang inilah yang membuat Maya memiliki watak manja dan selalu ingin dipenuhi permintaannya!

Selagi ia menyelinap di antara pohon-pohon mengintai dan mencari binatang buruan, tiba-tiba ia dikejutkan derap kaki kuda. Hampir saja ia membentak marah karena disangkanya itu derap kaki kuda para pengawalnya. Ia marah karena suara berisik tentu saja mengganggunya, membikin takut binatang-binatang hutan yang tentu akan lari dan bersembunyi. Akan tetapi kemarahannya berubah menjadi keheranan dan ia cepat bersembunyi di balik pohon ketika melihat bahwa yang datang

bukanlah pasukan pengawalnya, melainkan pasukan pilihan ayahnya yang mengangkut perlengkapan perang!

Setelah pasukan itu lewat dan menghilang ke jurusan barat, Maya masih berdiri di tempat persembunyiannya sambil termenung heran memikirkan hal itu. Ayahnya telah beberapa hari pergi meninggalkan istana dan menurut ibunya, ayahnya sedang menyelidiki keadaan di perbatasan barat karena ada kabar bahwa bangsa Yucen sedang bergerak di sana, ada tanda-tanda bahwa bangsa itu mempunyai niat tidak baik terhadap Kerajaan Khitan dan daerahnya. Akan tetapi, mengapa ayahnya belum kembali dan sekarang malah pasukan ayahnya mengirim perbekalan perang? Apakah akan terjadi perang dengan bangsa Yucen? Ia harus pulang dan bertanya kepada ibunya. Hilanglah nafsunya untuk berburu lagi dan dia lalu berlari kembali menjumpai para pengawalnya memerintahkan mereka untuk pulang ke kota raja.

Setelah tiba di istana Maya bergegas lari memasuki kamar ibunya dan betapa kagetnya ketika ia menyaksikan ibunya sedang duduk termenung dengan muka muram dan mata merah bekas menangis. Juga tadi ia melihat bahwa para tentara telah bersiap-siap melakukan penjagaan di kota raja. Apakah yang terjadi?

Maya menubruk ibunya. “Ibunda….! Apakah yang terjadi? Mengapa pasukan Ayah membawa perlengkapan perang? Mengapa pasukan-pasukan menjaga kota raja? Mengapa Ibu berduka dan menangis?”

Puteri Mimi memeluk dan mencium muka anaknya, kemudian berkata perlahan, “Kutukan dewa….! Kutukan dewa menimpa kita….! Ah, aku pun ikut berdosa dan engkau…. Anakku, semoga para dewa melindungimu dan tidak menimpakan kemarahannya kepadamu. Engkau tidak berdosa….!” Puteri itu tak dapat menahan keluarnya air mata.

Leave a Reply

Go back to top