Jodoh Rajawali, by Kho Phing Hoo 1/809 | Next page |

JODOH RAJAWALI Karya Kho Ping Ho JILID 10


Kaisar pertama yang bertahta di Kerajaan Ceng-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mancu yang menguasai Tiongkok, merupakan kaisar yang sampai puluhan tahun dapat mempertahankan kedudukannya, mengatasi banyak pemberontakan dan perebutan kekuasaan. Kaisar tua ini mulai bertahta dalam tahun 1663 dan dapat mempertahankan kedudukannya ini selama lima puluh sembilan tahun!

Pada awal tahun 1700 terjadilah pemberontakan dua orang pangeran kakak beradik, yaitu Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong, adik-adik tiri kaisar pertama itu, ialah Kaisar Kang Hsi. Dua orang pangeran yang mencoba untuk berkhianat terhadap kaisar itu melakukan pemberontakan yang nyaris menggulingkan kedudukan kaisar, atau sedikitnya telah menggegerkan kota raja. Akan tetapi akhirnya berkat bantuan para menteri dan panglima yang setia, apalagi karena bantuan Puteri Milana yang terkenal gagah perkasa dan pandai, pemberontakan itu dapat digagalkan, bahkan dua orang pangeran pengkhianat itu dapat ditewaskan.

Akan tetapi, pemberontakan ini dengan segala akibatnya menggores hati kaisar yang sudah tua itu, karena, pertama dia merasa kecewa dan terkejut melihat kenyataan betapa dua orang adik tiri yang dipercayanya itu betul-betul melakukan pemberontakan terhadapnya. Ke dua, melihat bahwa dia terpaksa membiarkan dua orang adiknya itu tewas. Dan ke tiga, perpecahan-perpecahan yang diakibatkan oleh pemberontakan itu diantara ponggawa dan pembantunya.

Lima tahun telah lewat sejak pemberontakan itu dapat ditumpas. Namun, biarpun pemberontakan telah dipadamkan dan dua orang pangeran tua itu telah tewas, peristiwa yang mengakibatkan perpecahan di kalangan atas, dan mengakibatkan timbulnya sikap curiga-mencurigai di antara mereka, mempunyai pengaruh besar terhadap para pembesar atasan yang mempengaruhi pula para anak buah mereka dan terasa pula ketegangan-ketegangan yang timbul di antara kelompok satu dan kelompok lain sehingga rakyat pun merasa gelisah.

Peristiwa itu banyak mengurangi kedaulatan dan wibawa Kaisar Kang Hsi. Kaisar tua itu tidak kuat lagi mengendalikan kemudi pemerintahannya yang dilanda gelombang perpecahan itu. Banyak raja-raja muda, gubernur-gubernur dan panglima-panglima komandan barisan di perbatasan yang menguasai daerah propinsi yang jauh letaknya dari kota raja, sedikit demi sedikit dan secara halus tidak menyolok mulai memisahkan diri dari pusat. Mereka itu masing-masing menyusun kekuatan dan berusaha mengatur daerah kekuasaan masing-masing seperti seorang raja. Semua hasil pemungutan pajak dan lain-lain mereka simpan sendiri, dan kalau pun sebagai basa-basi mereka masih mengirimkan hasil daerah mereka ke kota raja, maka yang dikirim itu tidak ada artinya dibandingkan dengan hasil yang masuk.

Tentu saja tidak semua pembesar bersikap demikian. Banyak pula yang semenjak semula berpihak kepada kaisar, masih merupakan pembesar yang setia. Oleh karena itu timbullah pertentangan diam-diam antara para pembesar dan pertentangan ini tentu saja menimbulkan keadaan yang kacau dan tidak aman. Biarpun dari pusat sendiri tidak atau belum ada tindakan apa-apa, namun antara para pembesar yang setia kepada kaisar dan yang hendak memisahkan diri, terdapat pertentangan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan sehingga sering pula terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara pembesar yang mempertahankan daerah kekuasaannya masing-masing hanya karena urusan perairan, urusan perdagangan dan lain-lain.

Semua bentuk permusuhan, baik dimulai dari permusuhan perorangan sampai kepada perang dunia, adalah pencetusan dari sifat mementingkan diri pribadi dan manusia. Sifat mementingkan diri pribadi ini yang didorong oleh keinginan mengejar kesenangan, menimbulkan ambisi-ambisi pribadi dan dalam pengejaran ambisi-ambisi pribadi inilah terjadi kekerasan, saling menjegal, saling merobohkan dan saling membunuh demi mencapai ambisi pribadi. Kalau hanya begitu saja kiranya masih mending, akan tetapi yang lebih celaka lagi adalah kenyataan bahwa di dalam pengejaran ambisi pribadi itu, dalam menghadapi saingan, mereka tidak segan-segan untuk mempergunakan tenaga orang lain, bahkan tidak segan-segan mengorbankan orang-orang lain yang tak terhitung banyaknya, dengan menggunakan kedok perjuangan dan sebagainya yang muluk-muluk untuk menutupi dasar perbuatan mereka yang sesungguhnya, yaitu demi kepentingan diri mereka sendiri! Hal seperti ini merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia, kenyataan yang terjadi berulang-ulang selama ribuan tahun lamanya, namun sampai kini pun masih ada saja manusia yang berhati srigala bermuka domba, mengorbankan banyak orang demi tercapainya cita-cita atau ambisi mereka dan menggunakan slogan-slogan muluk, dan anehnya masih banyak pula orang-orang yang begitu bodohnya, mudah saja diperalat oleh beberapa gelintir orang dengan umpan slogan muluk-muluk.

Demikianlah, daerah-daerah yang berbatasan antara propinsi, bahkan antar karesidenan atau kabupaten, sering kali terjadi kekacauan dan permusuhan karena perpecahan itu. Dan siapakah yang menderita? Lagi-lagi rakyat jelata. Di waktu perang terlanda oleh kejamnya peperangan, dirampok dan dibakar. Di waktu damai terlanda kejamnya para pembesar atau penguasa yang korup. Demikianlah nasib rakyat kecil yang tidak berdaya. Akibat pertentangan-pertentangan antara pembesar yang memperebutkan kebenaran mereka sendiri itu tentu saja melalaikan penjagaan dan muncullah segala macam orang yang biasa mempergunakan kekacauan untuk mengail di air keruh,yaitu kaum maling, rampok, bajak dan sebagainya. Hal seperti ini tentu saja mendatangkan perasaan prihatin dalam hati para pembesar yang berjiwa pahlawan, yang berjiwa pemimpin dan yang benar-benar mementingkan kehidupan rakyat jelata.

Akan tetapi, Kaisar Kang Hsi yang sudah tua itu sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan kematian dua orang adlk tirinya itu, pemberontakan mereka itu membuat dia merasa tidak suka kepada orang-orang yang menentang dua orang adiknya yang memberontak itu, karena dianggapnya bahwa merekalah yang membuat dua orang pangeran itu tidak suka dan memberontak. Mulailah kaisar ini menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya ini, orang-orang yang dengan gigih menentang dua orang pangeran pemberontak. Sikap kaisar seperti ini tentu saja mengakibatkan terpecahnya para pembantu yang dekat dengannya, yaitu mereka yang prihatin melihat ulah kaisar, dan mereka yang menggunakan kesempatan ini untuk menjilat. Penjilatan ini pun hanya merupakan percerminan dari keinginan menyenangkan diri pribadi yang ingin mencari kedudukan, dan penjilatan itu hanya merupakan cara mereka untuk dapat mencapai ambisi mereka. Mulailah bermunculan jari-jari maut dan bibir-bibir berbisa yang tunjuk sana-sini, bisik sana-sini untuk menjatuhkan fitnah kepada orang-orang yang dibenci.

Melihat keadaan ini, para pembesar yang setia kepada negara mulai melakukan gerakan halus, diam-diam mereka mencalonkan seorang kaisar baru untuk menggantikan kaisar yang lalim itu. Mereka ini tidak rela melihat pemerintah dan rakyat dirusak oleh ulah kaisar tua yang agaknya sudah pikun.

Akan tetapi, orang yang paling merasa sengsara hatinya adalah seorang panglima besar yang merupakan orang paling tinggi pangkatnya di dalam angkatan perang Kerajaan Ceng-tiauw. Orang ini bukan lain adalah Jenderal Kao Liang, yang diangkat menjadi panglima besar setelah pemberontakan itu dapat ditumpasnya. Akan tetapi, melihat sepak terjang kaisar, Jenderal Kao yang jujur itu tidak rela dan tidak dapat diam saja. Pada suatu hari, dengan terang-terangan dia menghadap kaisar dan memperingatkan kalsar akan penyelewengannya.

Aklbatnya hebat! Karena marah, terutama karena suara-suara hasutan dari kanan kiri, kaisar yang tidak berani menghukum panglima terkenal ltu secara berterang, lalu menggunakan siasat halus. Jenderal Kao di pensiun! Jenderal Kao diberhentlkan dengan hormat dan dipersilakan untuk beristirahat menikmati hari tua dan diberi bekal banyak harta benda oleh kaisar.

Jodoh Rajawali, by Kho Phing Hoo 1/809 | Next page |

Leave a Reply