Kisah Sepasang Rajawali, by Kho Phing Hoo 1/840 | Next page |

KISAH SEPASANG RAJAWALI Karya Kho Ping Ho JILID 9


“Haaiiiii…. hiiyooooo…. huiiiiii….!”

“Eh, Bu-te (adik Bu), jangan main-main! Angin bertiup begini kencang, lekas duduk dan membantu aku. Gulung layar itu, kita bisa celaka kalau angin sebesar ini dan layar tetap berkembang!”

“Yahuuuuu….! Wah, dengar, Lee-ko (kakak Lee), suara terbawa angin tentu terdengar sampai jauh. Hiyooooohhhhh….!”

Mereka adalah dua orang anak laki-laki yang menjelang dewasa, berusia empat belas tahun, berwajah tampan dan bertubuh tegap kuat. Mereka ini kakak-beradik yang mempunyai ciri wajah berbeda sungguhpun sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tampan. Yang disebut Lee-ko adalah Suma Kian Lee, sedangkan adiknya itu adalah Suma Kian Bu, dan kedua orang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang bermain-main dengan perahu mereka, melainkan putera-putera Pendekar Super Sakti Suma Han atau yang lebih terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es!

Pendekar Super Sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai selama bertahun-tahun, tinggal di Pulau Es bersama dua orang isterinya, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang isteri yang cantik jelita dan mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raga mereka. Di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis diceritakan betapa suami dengan kedua orang isterinya ini baru berkumpul kembali di pulau itu setelah mereka berusia empat puluh tahun dan hidup bertiga di pulau kosong itu, mengasingkan diri dari dunia ramai dan saling mencurahkan kasih sayang yang terpendam selama belasan tahun berpisah!

Dari curahan kasih sayang yang amat mendalam dan mesra itu, terlahirlah dua orang anak laki-laki itu. Lulu melahirkan puteranya lebih dahulu, dan anak itu diberi nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemudian, Nirahai juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Suma Kian Bu. Tentu saja kelahiran dua orang anak laki-laki itu menambah rasa bahagia di dalam kehidupan mereka bertiga sehingga tidak begitu terasalah kesunyian di pulau itu. Dan setelah kedua orang anaknya terlahir, demi kepentingan dua orang anaknya, Suma Han tidak lagi pantang bergaul dengan orang lain, bahkan seringkali dia mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain di dekat daratan besar yang dihuni oleh nelayan-nelayan.

Karena kedua orang anak itu lebih mirip dengan ibu masing-masing, maka biarpun keduanya sama tampan, namun terdapat perbedaan dan ciri khas pada wajah mereka, juga semenjak kecil sudah tampak perbedaan watak mereka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, putera Lulu, berwatak lembut dan halus, sabar dan tidak pernah melakukan kenakalan, juga pendiam. Sebaliknya, Suma Kian Bu, putera Nirahai, amat nakal dan periang, mudah tertawa dan mudah menangis, bandel dan berani, akan tetapi juga amat mencinta kakaknya dan betapapun nakalnya, akhirnya dia selalu tunduk dan taat kepada kakaknya. Padahal dia berani membangkang terhadap ibunya sendiri, bahkan kadang-kadang dia berani menentang ayahnya!

Pada pagi hari itu, ketika kedua orang ibu mereka sedang sibuk di dapur darr ayah mereka seperti biasa di waktu pagi hari duduk bersamadhi di dalam kamar samadhinya, mereka berdua bermain-main dengan perahu mereka. Kenrudian timbul niatan tiba-tiba dalam kepala Suma Kian Bu untuk pergi menggunakan perahu ke daratan besar dan mencari encinya (kakak perempuannya) yang tinggal di kota raja! Memang anak ini mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Puteri Milana. Puteri Nirahai adalah puteri Kaisar Tiongkok yang lahir dari seorang selir, maka anaknya yang pertama, yang bernama Milana, juga seorang puteri, cucu kaisar! Di dalam ceritera Sepasang Pedang Iblis dituturkan betapa Puteri Milana, kakak Suma Kian Bu ini, oleh ayahnya diharuskan ikut kakeknya, Kaisar Tiongkok, untuk tinggal di istana kaisar dan selanjutnya mentaati semua perintah kakeknya itu. Akhirnya oleh kaisar, Puteri Milana yang cantik jelita itu dijodohkan dengan seorang panglima muda yang juga berdarah bangsawan, setelah panglima muda ini berhasil keluar dari sayembara yang diadakan oleh Milana. Dara bangsawan itu, cucu kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, hanya mau dijodohkan dengan seorang yang mampu menahan serangannya selama seratus jurus! Dan kalau dia menghendaki, sukarlah ditemukan orang yang dapat menahan seratus jurus serangannya. Akan tetapi ketika Han Wi Kong, panglima muda itu, memasuki sayembara, pemuda perkasa ini berhasil mempertahankan diri dan dialah yang terpilih menjadi suami puteri jelita dan perkasa itu! Sesungguhnya, hal ini hanya dapat terjadi karena memang Milana memilihnya di antara sekian banyaknya pelamar yang datang memasuki sayembara.

Ketika diadakan pesta pernikahan Puteri Milana, Pendekar Super Sakti bersama kedua orang isteri dan kedua orang puteranya datang pula ke kota raja. Hal ini terjadi ketika kedua orang puteranya masih kecil, baru berusia lima-enam tahun dan itulah pengalaman pertama dari kedua orang anak ini melihat kota raja!

Demikianlah pagi hari itu, Suma Kian Bu membujuk kakaknya untuk pergi menyusul kakak perempuannya di kota raja. Tentu saja Suma Kian Lee menolak dan memperingatkan adiknya bahwa kota raja amatlah jauh dan pergi ke sana tanpa ijin ayah mereka tentu akan membuat ayah mereka marah. Akan tetapi, Suma Kian Bu merengek dan akhirnya Suma Kian Lee yang amat sayang kepada adiknya, terpaksa menyanggupi dan berlayarlah keduanya meninggalkan Pulau Es!

Biarpun kedua orang anak laki-laki itu baru berusia empat belas tahun, akan tetapi sebagai putera-putera Pendekar Super Sakti, tentu saja mereka tidak dapat disamakan dengan anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Semenjak kecil mereka berdua telah digembleng oleh ayah bunda mereka yang berilmu tinggi sehingga mereka merupakan dua orang anak-anak yang telah memiliki ilmu kepandaian silat tinggi dan memiliki tenaga sin-kang latihan Pulau Es yang mujijat. Betapapun juga, mereka hanyalah anak-anak dan sifat anak-anak mereka yang suka bermain-main masih melekat dalam hati mereka. Setelah mereka menjelang dewasa, jiwa petualang yang terdapat dalam hati semua anak laki-laki, bergejolak dan kini dicetuskan oleh Kian Bu yang mengajak kakaknya untuk pergi merantau, menyusul encinya di kota raja.

Perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Es karena angin di pagi hari itu bertiup kencang sehingga layar yang mereka pasang berkembang penuh. Akan tetapi makin lama angin bertiup makin kencang sehingga Kian Lee merasa khawatir sekali karena perahu mereka sudah miring-miring dan meluncur terlalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih bermain-main, berdiri di kepala perahu, bertolak pinggang dan berteriak-teriak membiarkan suaranya dibawa angin.

Kisah Sepasang Rajawali, by Kho Phing Hoo 1/840 | Next page |

Leave a Reply