Kisah Si Bangau Merah, by Kho Phing Hoo 1/351 | Next page |

KISAH SI BANGAU MERAH Karya Kho Ping Ho JILID 15


Hujan pertama semalam amat lebatnya, deras dan merata sampai puluhan li jauhnya, melegakan hati para petani. Melegakan tanah kering yang sudah berbulan-bulan merindukan air. Pagi hari ini udara amatlah cerah, seolah matahari lebih berseri daripada biasanya, seperti wajah seorang kanak-kanak tersenyum-tawa sehabis menangis. Kewajaran yang indah tak ternilai.

Seluruh permukaan bumi segar berseri seperti seorang puteri jelita baru keluar dari danau sehabis mandi bersih. Daun-daunan nampak hijau segar dan basah, demikian pula bunga-bunga, walaupun tidak tegak lagi melainkan banyak menunduk karena hembusan air dan angin semalam, Tanah yang disiram air selagi kehausan itu, mengeluarkan uapan bau tanah yang sedap, bau yang mengingatkan orang pada masa kanak-kanak ketika dia bermain-main dengan lumpur yung mengasyikkan.

Burung-burung pun lebih lincah pagi itu. Suasana menakutkan mereka semalam, hujan dan angin ribut, merupakan bahaya malapetaka yang telah lewat dan mereka menyambut munculnya matahari pagi dengan kicau saling sahutan, dan mereka siap-siap berangkat bekerja mencari makan. Kegembiraan nampak pada wajah para petani yang memanggul cangkul, berangkat ke sawah ladang yang kini kembali menjadi subur menumbuhkan harapan hasil panen yung baik,

Segala sesuatu di dunia ini nampak indah selama kita tidak menyimpan kenangan masa lalu. Kenangan hanya menimbulkan perbandingan dan perbandingan menghilangkan keindahan saat ini.

“Yo Han, engkau ini bagaimana sih?. Aku dan suhumu bersungguh-sungguh mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu, akan tetapi engkau selalu acuh menerimanya, buhkan tidak mau berlatih.” Suara wanita yang mengomel ini pun merupakan sebagian dari keindahan pagi itu kalau tidak dinilai. Perusak keindahan adalah penilaiun dan perbandingan.

Anak laki-laki itu berusia dua belas tahun. Dia berdiri dengan sikap hormat, namun pandang matanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut kepada wanita yang menegurnya, wanita yang duduk di atas bangku di depannya. Mereka berada di kebun yang terletak di belakang rumah, di mana tadi anak laki-laki itu menyapu kebun yang penuh dengan daun-daun yang berguguran semalam.

Wanita itu adulah Kao Hong Li atau Nyonya Tan Sin Hong. Suami isteri pendekar ini sejak menikah lima tahun yang lalu, tinggal di kota Ta-tung, di sebelah barat kota raja Peking, di mana mereka membuka sebuah toko rempa-rempa dan hasil pertanian dan perkebunan.

Tan Sin Hong adalah seorang pendekar yang terkenal, walaupun kini dia hidup dengan tenang dan tenteram di kota Ta-tung, tidak lagi bertualang di dunia persilatan. Dia pernah terkenal sekali dengan julukannya Pendekar Bangau Putih atau Si Bangau Putih. Julukannya ini adalah karena dia merupakan satu-satunya pendekar yang menguasai ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) ciptaan dari mendiang tiga orang sakti yang menggabungkan ilmu-ilmu mereka, yaitu mendiang Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir, isterinya Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio atau Wan Tek Hoat yang pernah terkenal dengan julukan Si Jari Maut! Si Bangau Putih Tan Sin Hong pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat. Akan tetapi setelah menikah, dia hidup dengan tenang tenteram bersama isterinya di kota Ta-tung, walaupun usianya masih sangat muda, yaitu baru dua puluh tujuh tahun. Kesukaannya akan pakaian berwarna putih membuat dia lebih dikenal sebagai Si Bangau Putih.

Tan Sin Hong seorang pria yang nampaknya biasa dan sederhana saja, sikapnya selalu lembut dan ramah. Hanya pada matanya sajalah nampak bahwa dia bukan orang sembarangan. Matanya itu kadang mencorong penuh kekuatan dan kewibawaan.

Isterinya yang kini duduk di kebun, bernama Kao Hong Li, berusia dua puluh enam tahun. Isteri Si Bangau Putih itu pun bukan wanita sembarangan. Ia puteri pendekar Kao Cin Liong, bahkan cucu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mengherankan kalau nyonya muda ini pun memiliki ilmu silat yang hebat, walaupun tidak sehebat suaminya. Sukarlah mencari seorang yang cukup lihai untuk mampu menandingi Kao Hong Li.

Kao Hong Li seorang wanita yang cantik. Wajahnya bulat telur dan kecantikannya terutama terletak kepada sepasang matanya yang lebar dan jeli. Sikapnya lincah, gagah dan juga galak. Ia seorang wanita yang cerdik, pandai bicara. Seperti juga Tan Sin Hong yang pernah menikah dengan wanita lain kemudian bercerai, Kao Hong Li juga seorang Janda muda ketika menikah dengan Sin Hong.

Biarpun kedua orang pendekar ini saling mencinta ketika Mereka masih perjaka dan gadis, namun keadaan membuat mereka tidak berjodoh dan menikah dengan orang lain. Tan Sin Hong menikah dengan Bhe Siang Cun, puteri guru silat Ngo-heng Bu-koan, sedangkan Kao Hong Li menikah dengan Thio Hui Kong, putera seorang jaksa di kota Pao-teng, Namun, karena pernikahan ini tidak dilandasi cinta, sebentar saja terjadi keretakan dan akhirnya keduanya bercerai dari isteri dan suami masing-masing. Dalam keadaan menjadi duda dan menjadi janda inilah mereka saling berjumpa kembali dan kegagalan perjodohan mereka masing-masing itu makin mendekatkan dua hati yang memang sejak dahulu sudah saling mencinta itu. Dan mereka pun manjadi suami isteri.

Kisah Si Bangau Merah, by Kho Phing Hoo 1/351 | Next page |

Leave a Reply