Kisah Si Bangau Putih, by Kho Phing Hoo 1/360 | Next page |

KISAH SI BANGAU PUTIH Karya Kho Ping Ho JILID 14


Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tidak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok Besar, tentu mengira bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bangsa Mancu tentu berhenti sampai di Tembok Besar itu. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. Bangsa Mancu sendiri merupakan bangsa yang tinggal jauh di utara yang amat dingin, daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang amat luas. Masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, kemudian terdapat daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas. Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang daerah yang liar dan kejam, dengan tak terhitung banyaknya bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.

Padang pasir seperti ini memang ganas dan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana-sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudah banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir, dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau digerogoti anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama mengering. Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu, memang kejam, juga mengandung kesunyian yang mendatangkan suasana yang menyeramkan dan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa nmengerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, di mana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir dan pasir di mana-mana, panas dan silau,tidak diketahui lagi mana utara mana selatan. Belum lagi kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan berombak seperti air di lautan, menelan apa saja yang menghalang di depan. Para pedagang, yang melakukan perjalanan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh-aneh. Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Namun, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.

Di tengah-tengah satu di antara padang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah gedung istana kuno, lengkap dengan perkebunan yang cukup luas, dengan pohon-pohon buah yang subur, dan sayur-sayuran, bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat pula sumber air tak jauh dari istana kuno itu. Sungguh merupakan suatu keadaan yang ajaib, dan andaikata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu melihat bangunan istana berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa dia pun hanya melihat pemandangan khayal belaka.

Akan tetapi tidaklah demikian se sungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan istana yang besar, pernah di jaman dahulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan dari seorang rajadiraja, seorang kaisar besar yang bukan lain adalah Kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol! Akan tetapi, puluhan tahun yang lalu, istana itu dihuni oleh seorang sakti yang aneh, yang di dunia persilatan tingkat tinggi dikenal sebagai tokoh dongeng yang bernama Dewa Bongkok. Nama Dewa Bongkok yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak kalah terkenalnya dan dianggap sebagai setengah dongeng saja, seperti halnya Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es! Setelah Dewa Bongkok meninggal dunia, kini yang menjadi penghuni istana Gurun Pasir itu adalah muridnya yang bernama Kao Kok Cu, yang di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Nama besar Pendekar Naga Sakti ini pernah menggemparkan dunia persilatan, dan dia tidak kalah terkenalnya dibandingkan mendiang gurunya. Kini Kao Kok Cu telah menjadi seorang kakek yang tua renta, tinggal di dalam istana kuno itu berdua saja dengan isterinya. Isterinya bukan wanita sembarangan, melainken seorang pendekar wanita yang juga pernah menggemparkan dunia persilatan. Namanya Wan Ceng, ketika kecil pernah tinggal di Kerajaan Bhutan, jauh di barat bahkan menjadi saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga ia memperoleh nama julukan Candra Dewi. Wan Ceng juga memiliki kesaktian dan kini ia dalam usia tujuh puluh dua tahun tinggal bersama suaminya di Istana Gurun Pasir. Mereka berdua hidup di situ tanpa pelayan hanya berdua saja, mengerjakan ladang dan kebun sendiri yang hasilnya jauh lebih daripada cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Sebagian besar dari waktu luang mereka dipergunakan untuk bersamadhi dan bertapa.

Keadaan sepasang suami isteri ini tidak dapat disamakan dengan keadaan para pertapa yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi bertapa de ngan suatu pamrih tertentu. Orang pergi meninggalkan dunia ramai untuk bertapa di puncak bukit yang sunyi, di dalam gua yang sederhana, hanya mengenakan cawat saja, hanya makan seadanya, menyiksa diri menahan haus dan lapar, tentu mem punyai suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah pamrih, dan semua pamrih, baik yang terbuka maupun terselubung, selalu tentu menjangkau suatu keadaan yang menyenangkan. Biarpun pamrih mendapatkan keadaan yang menyenangkan ini diperhalus dengan sebutan muluk tetap saja merupakan pamrih demi kesenangan diri. Mungkin dia akan mengatakan bahwa dia bertapa untuk mencari kebahagiaan mencari kesempurnaan hidup, mencari Tuhan, dan sebagainya lagi. Namun pencariannya itu sendiri membuktikan bahwa dia menginginkan sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan kesenangan dalam bentuk kedamaian, kebahagiaan, dan lain sebutan lagi.

Sepasang suami isteri itu tidak men cari apa-apa. Istana Gurun Pasir itu memang milik mereka, peninggalan dari Dewa Bongkok kepada muridnya, yaitu kakek Kao Kok Cu. Mereka berdua memang senang tinggal di tempat sunyi itu, bukan untuk mencari sesuatu atau menjadikan tempat yang sunyi itu sebagai pelarian dari dunia ramai. Sama sekali tidak. Mereka memang merasa senang tinggal di tempat yang penuh keheningan itu dan merasa berbahagia.

Akan tetapi, pada hari itu, Istana Gurun Pasir tidaklah setenang biasanya. Dari dalam gedung istana tua itu kini terdengar suara gelak tawa dan percakapan yang diselingi suara ketawa gembira. Kiranya suami isteri tua itu kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka. Tamu itu bukan orang asing. Dia seorang hwesio yang bernama Tiong Khi Hwesio, usianya juga sudah tujuh puluh dua tahun dan tentu saja kunjungan hwesio ini disambut gembira oleh kakek dan nenek itu, terutama sekali nenek itu karena hwesio ini bukan lain adalah saudara tirinya sendiri, seayah berlainan ibu. Di waktu mudanya, Tiong Khi Hwesio juga seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan julukannya yang mengerikan, yaitu Si Jari Maut! Dia menikah dengan Syanti Dewi, puteri Kerajaan Bhutan dan sampai tua dia tinggal di kerajaan kecil itu. Setelah isterinya meninggal dunia, dia hampir gila karena duka. Akan tetapi, pertemuannya dengan seorang pendeta tua menyadarkannya dan mulai saat itu, Wan Tek Hoat, demikian namanya, lalu menggundul rambut kepala dan mengenakan jubah, menjadi seorang hwesio yang berkelana.

Mereka bertiga bercakap-cakap sambil makan sederhana dengan sayur segar yang dimasak sendiri oleh nenek Wan Ceng. Kemudian mereka bertiga keluar dari istana itu dan duduk di serambi depan sambil bercakap-cakap. Kao Kok Cu yang dahulu berjuluk Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, biarpun usianya sudah hampir delapan puluh tahun masih nampak gagah penuh semangat. Lengan kirinya yang buntung itu tidak membuat dia kelihatan mengerikan, bahkan membuatnya nampak lebih berwibawa. Wajahnya yang tampan membayangkan kelembutan, sinar matanya mencorong seperti mata naga namun juga membayangkan kelembutan dan kesabaran. Melihat sepintas lalu, takkan ada orang mengira bahwa kakek tua renta yang lengan kirinya buntung ini memiliki kesaktian yang amat hebat. Dua macam ilmu simpanannya, yaitu Sin-liong Hok-te, pasangan kuda-kuda yang membuat tubuhnya seperti mendekam di atas tanah bagaikan seekor naga, kemudian dapat menimbulkan tenaga dahsyat yang mujijat, dan Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, jarang dapat ditandingi di dunia persilatan. Isterinya, nenek Wan Ceng, biarpun usianya juga sudah tua sekali, masih nampak sehat. Mukanya tidak penuh keriput dan kulit muka itu masih halus kemerahan saking sehatnya, walaupun giginya telah ompong dan rambut di kepala telah putih semua. Nenek ini pun memiliki ilmu simpanan yang khas, yaitu Ban-tok-ciang, dan kalau ia sudah mengerahkan tenaga memainkan ilmu silat ini, kedua tangannya mengandung selaksa racun (ban-tok) yang amat dahsyat dan berbahaya bagi lawan. Juga pedangnya, Ban-tok-kiam, merupakan pusaka yang mengerikan. Adapun tamu itu Tiong Khi Hwesio, biarpun sudah setua nenek itu, namun tubuhnya masih tegap, jalannya masih tegak. Jubahnya kuning bersih, matanya tajam berkilat dan mulutnya selalu tersenyum sinis. Kakek yang pernah berjuluk Toat-beng-ci (Si Jari Maut) ini memiliki berbagai ilmu silat simpanan seperti Pat-mo Sin-kun, Pat-sian Sin-kun, dan memiliki ilmu sin-kang (tenaga sakti) yang diberi nama Tenaga Inti Bumi. Juga pedangnya, Cui-beng-kiam, merupakan sebuah pedang pusaka yang ampuh sekali.

Sebetulnya baru beberapa bulan yang lalu, Tiong Khi Hwesio berjumpa dengan kakek dan nenek itu ketika mereka se mua menghadiri pernikahan Pendekar Suling Naga, yang bernama Sim Houw, dengan Can Bi Lan, gadis yang pernah mendapat bimbingan ilmu silat dalam waktu singkat dari kakek dan nenek ini sehingga dapat dibilang gadis itu murid mereka. Pernikahan itu diadakan di ru mah Pendekar Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri dari Istana Gurun Pasir ini. Akan tetapi karena pertemuan itu terjadi dalam sebuah pesta di mana hadir banyak tamu, mereka merasa ku rang leluasa bercakap-cakap. Siapa kira, tahu-tahu kini hwesio tua itu muncul di istana mereka, tentu saja kakek dan nenek itu menjadi gembira bukan main.

Tek Hoat, sungguh aku girang bukan main bahwa engkau sudi datang berkunjung kepada kami. Pertemuan dalam usia yang amat tua ini sungguh mendatangkan kenangan ketika masih muda, dan menggembirakan sekali. Terima kasih, Tek Hoat. Nenek itu memang selalu menyebut saudara tirinya dengan nama kecilnya saja, tidak peduli bahwa kini saudara tirinya itu telah menjadi seorang hwesio tua, seorang pendeta!

Tiong Khi Hwesio tertawa bergelak. Ha-ha-ha, bertemu dan bercakap-cakap denganmu membuat orang sama sekali lupa bahwa dia telah menjadi tua bang ka, Wan Ceng. Sikap dan kata-katamu seolah-olah tak pernah berubah, aku me lihatmu seperti melihat engkau ketika masih gadis, ha-ha-ha!

Kisah Si Bangau Putih, by Kho Phing Hoo 1/360 | Next page |

Leave a Reply