Pedang Kayu Harum, by Kho Phing Hoo 1/650 | Next page |

PEDANG KAYU HARUM Karya Kho Ping Ho JILID 1


Kiam Kok-san (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena Kim Kok-san kurang indah pemandangannya. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amatlah indahnya. Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi seperti menara besi menembus awan tak tampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu perawan itu merupakan tempat kediaman dewa penjaga gunung. Awan putih yang berarak seperti domba-domba kapas, tak pernah berhenti dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam Kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam. Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Bagaimana taman surga terbentang luas di bawah kaki, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia.

Bukan karena kurang indah, melainkan kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah penuh batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu. Jurang-jurang yang curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menopengi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, dan bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.

Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat mengusir halimun menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram. Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang dalam hidupnya menjauhkan diri daripada segala kemaksiatan dan kejahatan.

Ketika sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah amat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang penuh keriput, dagingnya yang sudah tipis sehingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Kalau ditaksir, kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun usianya. Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan kedua kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan. Dilihat dari jauh, dia seperti telah membatu, lebih menyerupai sebuah arca batu daripada seorang manusia hidup. Namun sesungguhnya dia bukanlah arca, karena kalau diperhatikan, tampak betapa dada di balik kain putih itu bergerak perlahan seirama dengan pernapasannya yang halus dan panjang. Di atas tanah, depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan setelah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda daripada pedang-pedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu!

Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak amat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentu seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan seorang pria.

Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari samadhi. Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) amat kuat saja yang dapat mempunyai sepasang mata seperti itu. Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri dengan sinar matanya seolah-olah dia minum dan menikmati segala keindahan yang dicipta oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggeleng kepalanya, dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih.

“Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu kepada seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang telah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku pandai ilmu silat, karena…karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh,Tuhanku! Aku tidak akan mengelak daripada kenyataan. Aku rela dan siap sedia menerima hukuman-hukumannya. Tak mungkin aku membebaskan diri daripada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan….!”

Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya seolah-olah dia tidak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali? Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermaikan daun-daun pohon. Paduan suara ini seolah-olah mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia. Tuhan Maha Kasih, tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung daripada rasa penerimaan si manusia sendiri!

Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tidak wajar di tempat itu. Kemudian muncullah bayangan orang-orang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas seperti burung-burung raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di depan kakek yang bersamadhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter. Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan. Mereka berdiri tak bergerak, namun dalam keadaan siap-siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang terletak didepannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam, adapun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak disembunyikan.

Biarpun kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai perubahan pada kicau burung, ternyata telah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersamadhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan mereka itu memang telah diduganya. Adapun sembilan orang itu ketika bertemu pandang sedetik dengan sapuan matanya, menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya.

“Sie Cun Hong…! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadpmu lunas!”

Kakek itu menoleh ke kanan karena yang bicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi. Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak. Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang dahulunya amat indah manis itu kini agak “nyamprut” karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya tinggi semampai itu kini agak membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang tersembul di balik pundak kanannya.

Pedang Kayu Harum, by Kho Phing Hoo 1/650 | Next page |

Leave a Reply