Suling Mas, by Kho Phing Hoo 1/327 | Next page |

SULING MAS Karya Kho Ping Ho JILID 2


Pada jaman lima wangsa ( th.907- 960 ) , kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain, juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.

Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun ( semi ) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, Datang membanjiri Nan-cao. Apakah gerangan yang menarik para kelana dan pe tualangan itu mendatangi Nan-cao? Ada pula hal yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh.

Pertama adalah pengangkatan Beng-kauw ( Ketua Agama Beng-kauw ) sebagai Koksu ( Guru Negara ) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berju-luk Pat-jiu Sin-ong ( Raja Sakti Berlengan Delapan ) Itu ? Pada masa itu, Pat-jiu Sin-ong Liu gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidaklah mengherankan kalau apabila kini tokah-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan Nan-cao.

Adapun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh ! Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakan hati mereka untuk ikut datang mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu ! Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan .

Tentu saja para pemuda inipun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ujud rupa dan bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang diantara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutma sekali tentang kecantikannya, yang menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi Liu Lu Sian.

“Rambutnya Halus licin laksana sutera harum melambai, meraih cinta asmara ! Mata indah, kerling tajam menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung ! Hidung mungil, halus laksana lilin diraut, cuping tipis bergerak mesra menambah patut ! Hangat lembut, merah basah juwita Gendewa terpentang berisi sari madu Puspita !.

Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya ! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian seorang dara jelita.

Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak) Namun ilmu silatnya amat tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa saja, tidak mau tunduk kepada siapapun juga.

Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan.

Dara itu puteri tunggal Pat-Jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan, baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, maupun tingkat kepandainnya. Bahkan kabarnya dara itu hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya ! Namun, para muda yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biarpun bahaya mengancam nyawa.

Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya, menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam dirumah-rumah penginapan di kota raja sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, merekapun berharap akan dapat menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang kembang mimpi mereka setiap malam.

Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi bahan percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu, ia sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya mengelilingi kota raja ! Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum. Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung dibelakang punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali dapat dilingkari jari-jari tangan agaknya, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan kuning emas, ketat mancetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak kecil.

Suling Mas, by Kho Phing Hoo 1/327 | Next page |

Leave a Reply