Suling Naga, by Kho Phing Hoo 1/538 | Next page |

SULING NAGA Karya Kho Ping Ho JILID 13


Penilaian, dalam bentuk apapun juga, tentu dipengaruhi suka dan tidak suka dari si penilai. Dan perasaan suka atau tidak suka ini timbul dari perhitungan rugi untung. Kalau si penilai merasa dirugikan, lahir maupun batin, oleh yang dinilainya, maka perasaan tidak suka karena dirugikan ini yang akan menentukan penilaiannya, tentu saja hasil penilaian itu adalah buruk. Sebaliknya, kalau merasa diuntungkan lahir maupun batin, timbul perasaan suka dan hasil penilainnya tentu baik. Penilaian menimbulkan dua sifat atau keadaan yang berlawanan, yaitu baik atau buruk. Tentu saja baik atau buruk itu bukan sifat aseli yang dinilai, melainkan timbul karena keadaan hati si penilai sendiri.

Agaknya belum pemah ada kaisar atau orang biasa siapapun juga yang dinilai baik oleh orang seluruh dunia. Kaisar Kian Liong, seperti dapat dilihat dalam catatan sejarah, adalah seorang kaisar yang terkenal berhasil dalam memajukan kebesaran pemerintahannya. Namun, diapun menjadi bahan penilaian rakyat dan karena itu, tentu saja diapun memperoleh pendukung dan juga memperoleh penentang. Seperti dalam pemerintahan kaisar-kaisar terdahulu, dalam pemerintahan Kian Liong inipun tidak luput dari pemberontakan-pemberontakan, baik besar maupun kecil. Akan tetapi, Kaisar Kian Liong selalu bertindak tegas dalam menghadapi pemberontakan-pemberontakan itu dan karena dalam pemerintahannya terdapat banyak panglima-panglima yang tangguh dan pandai, dengan balatentara yang cukup besar, maka dia selalu berhasil memadamkan api-api pemberontakan yang terjadi di sana-sini.

Pemberontakan yang hebat terjadi di daerah Yunan barat daya. Bangsa Birma bersekutu dengan para pemberontak di Propinsi Yunan. Pasukan besar Bangsa Birma memasuki Propinsi Yunan bagian barat daya, menyeberangi Sungai Nu-kiang, bahkan bergerak sampai di tepi Sungai Lan-cang (Mekong).

Tentu saja Kaisar Kian Liong tidak mendiamkan bangsa tetangga itu mengganggu wilayah Yunan dan dia segera mengirimkan panglima-panglima perangnya, memimpin pasukan besar untuk menghalau para pengganggu dari Birma itu dan menumpas pemberontakan di Yunan. Kembali terjadi perang!

Perang adalah suatu peristiwa yang amat jahat dan buruk dalam dunia ini. Puneak kebuasan manusia menuruti nafsu mengejar kesenangan. Perang merupakan perluasan dan pembiakan nafsu kotor dalam diri yang mengejar kesenangan dengan cara apapun juga dan setiap orang atau benda yang dianggap menjadi penghalang usahanya mengejar kesenangan itu akan dihaneurkan, dibinasakan. Perang adalah permainan beberapa gelintir manusia yang kebetulan saja memperoleh kesempatan untuk duduk di tingkat paling atas, menjadi apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin bangsa atau golongan atau kelompok, dalam usaha mereka untuk meneapai kedudukan paling tinggi dan kesenangan. Dan siapakah yang menjadi korban kalau bukan rakyat jelata? Para perajurit yang telah digembleng menjadi alat-alat membunuh atau dibunuh itupun sebagian dari rakyat yang menjadi korban ulah beberapa gelintir manusia yang berambisi itu.

Perang itu kejam! Manusia-manusia dirobah untuk menjadi srigala-srigala dan harimau-harimau yang haus darah, menjadi orang-orang yang teramat kejam karena ketakutan, yang berdaya upaya untuk membunuh lebih dulu sebelum terbunuh, pembunuh berdarah dingin yang disanjung-sanjung dan dipuji-puji oleh mereka yang memperalatnya. Di dalam perang berlakulah hukum rimba. Siapa kuat dia menang, siapa menang dia pasti benar dan berkuasa atas yang kalah. Bukan ini saja, akan tetapi di dalam perang juga timbul kejahatan-kejahatan yang diumbar karena desakan nafsu yang paling sesat. Para perajurit yang digembleng untuk melakukan kekerasan itu tentu saja berwatak keras. Bahaya-bahaya dan aneaman-aneaman dalam perang membuat mereka berwatak keras dan kadang-kadang malah buas.

Ada pula akibat sampingan yang amat menyedihkan. Adanya perang membuat banyak daerah tak bertuan, hukum yang ada hanya hukum rimba dan kesempatan ini dipergunakan oleh gerombolan-gerombolan yang biasa melakukan perbuatan jahat untuk merajalela. Rakyat pula yang menjadi korban. Tempat atau daerah-daerah yang dilanda perang membuat rakyat jelata ketakutan dan larilah mereka pontang-panting, cerai-berai dan kacau balau meninggalkan dusun atau kota mereka yang mereka tinggali selama ini, sejak mereka kecil. Terpaksa mereka melarikan diri demi meneari keselamatan, meninggalkan segala yang mereka sayang dan cinta, menuju ke tempat yang belum mereka ketahui atau kenal, memasuki nasib baru yang suram penuh rasa takut dan tanpa adanya ketentuan. Mereka ini adalah rakyat jelata pula.

Pasukan perajurit, yang merupakan sebagian rakyat pula, dipaksa oleh para penguasa untuk menjadi bidak-bidak catur yang dimainkan oleh para penguasa kedua pihak yang saling bertentangan atau berebut kemenangan. Mereka, para perajurit itulah yang akan gugur tanpa dikenal.

Kalau menang? Beberapa orang penguasa itulah yang akan menikmati hasil sepenuhnya, dan para perajurit yang mempertaruhkan nyawa dalam arti kata seluas-luasnya itu sudah cukup kalau diberi pujian dan sekedar hadiah atau kenaikan pangkat. Bagaimana kalau kalah? Perajurit-perajurit itu mempertahankan sampai titik darah terakhir, mati konyol atau tertawan, tersiksa, terbunuh, sedangkan para penguasa yang hanya beberapa gelintir orang itu kalau terbuka kesempatan akan cepateepat melarikan diri, menyelamatkan diri beserta keluarganya, tidak lupa membawa barang-barang berharga. Mereka akan mengungsi ke negara lain sebagai orang-orang yang kaya raya! Hal ini bukan dongeng, melainkan kenyataan yang dapat kita saksikan, baik dengan menengok ke belakang melalui sejarah maupun melihat keadaan sekarang di mana timbul perang yang keji itu.

Keluarga kecil itu terdiri dari suami isteri dan seorang anak perempuan. Ayah itu berusia hampir empatpuluh tahun, sang ibu berusia tigapuluhan tahun dan masih nampak cantik, sedangkan anak perempuan itu berusia kurang lebih sepuluh tahun. Mereka berhasil menyeberangi Sungai Lan-cang dengan sebuah perahu nelayan kecil. Mereka adalah penduduk di sebelah barat sungai itu. Karena pasukan-pasukan Birma sudah tiba di daerah itu, maka mereka melarikan diri mengungsi ke timur. Akan tetapi mereka mendengar pula betapa pasukan Kerajaan Maneu tidak kalah buasnya dengan pasukan Birma atau pasukan pemberontak. Ternak peliharaan para penduduk desa habis disikat mereka, segala barang berharga dirampas dan banyak pula wanita-wanita diganggu untuk melampiaskan nafsu mereka yang datang dengan dalih melindungi rakyat dari aneaman pemberontakan dan pasukan Birma. Rakyat dihadapkan dua api yang sama-sama panas membakar.

Ibu, aku capai sekali…. Anak perempuan itu mengeluh setelah perahu yang mereka pergunakan untuk menyeberangi Sungai Lan-cang itu hampir tiba di tepi bagian timur. Anak yang usianya kurang lebih sepuluh tahun itu agak pucat dan nampak lelah sekali. Pakaiannya seperti biasa anak petani dan wajahnya yang ditutupi sebagian rambut panjang kusut itu memiliki garis-garis yang cantik manis, terutama sekali mulutnya yang kecil dengan hiasan lesung pipit di kanan kirinya.

Ibu muda ini merangkulnya, meneoba untuk tersenyum walaupun ada garis-garis kegelisahan dan kelelahan di sekitar matanya. Ibu yang usianya tigapuluhan tahun ini bertubuh montok, dengan kulitnya yang putih dan rambutnya yang panjang hitam, walaupun pakaiannya sederhana namun nampak cantik dan manis.

Suling Naga, by Kho Phing Hoo 1/538 | Next page |

Leave a Reply