CINTA BERNODA DARAH Karya Kho Ping Ho JILID 3
seperti bayangan yang tak pernah berpisah dari padanya..
Ang Tojin melambaikan tangan dan lima orang tosu itu melanjutkan perjalanan mereka. Di wajah-wajah tua itu timbul semangat baru, timbul harapan dan kegembiraan.
Twa-suheng (Kakak Seperguruan Pertama), apakah itu suara beliau….? tosu termuda, belum lima puluh tahun, bertahi lalat di ujung hidung, bertanya.
….ssssttttt….! Ang Kun Tojin menyuruh adik seperguruan termuda itu diam. Mereka melanjutkan pendakian dan tak seorang pun berani bertanya lagi. Sambil mempergunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang khas Kun-lun-pai, yaitu ilmu lari cepat Teng-peng-touw-sui (Injak Rumput Seperti Air). Langkah kaki mereka dalam berlarian itu pendek-pendek namun cepat dan gin-kang mereka begitu hebat sehingga seakan-akan rumput yang terinjak kaki mereka tak sempat rebah saking cepatnya kaki yang bergerak! Sementara itu, suara nyanyian terdengar terus, halus lembut menusuk anak telinga.
Dia menyiksaku, dia memukulku dia mengalahkan aku, dia merampokku! Pikiran seperti ini menimbulkan benci tiada habisnya.
Memang pikiran ini berarti melenyapkan kebencian, karena benci takkan hapus oleh benci pula.
melainkan musnah oleh kasih!.
Ang Kun Tojin mengerutkan keningnya. Dia adalah seorang tosu (Pendeta Agama To) yang dalam pengetahuannya tentang Agama To, juga sebagai orang ke dua dari Kun-lun-pai dan seorang yang tekun mempelajari filsafat agama, ia mengenal kata-kata dalam nyanyian itu. Itulah pelajaran dari Agama Buddha merupakan bait-bait pertama daripada pelajaran dalam kitab Dhammapada. Ia pernah mendengar bahwa beliau adalah seorang yang menganut Agama To, megapa sekarang menyanyikan pelajaran berupa syair Agama Buddha? Apakah bukan beliau yang bernyanyi itu! Seorang hwesio (pendeta Buddha) yang berada di puncak? Mudah-mudahan begitu karena bagi Ang Kun Tojin, jauh lebih baik dan menimbulkan harapan apabila beliau itu seorang yang beragama To.
Di pertengahan puncak mereka berhenti lagi. Dengan penuh kekaguman mereka memandang ke bawah. Awan putih berombak-ombak seperti lautan susu di bawah kaki mereka. Puncak-puncak gunung lain tersembul keluar seperti pulau-pulau runcing atau seperti gunung-gunung kecil. Indah bukan main, mendatangkan rasa seakan-akan mereka telah berada di kahyangan, tempat tinggal para dewa dan mahluk halus, bukan tempat manusia, menimbulkan kepercayaan bahwa mereka makin dekat dengan Tuhan. Memang, siapa dapat merasai ketenangan dan ketenteraman, selalu akan merasa dekat dengan Tuhan.
Perjalanan dilanjutkan mendaki puncak. Tidak sesukar tadi, bahkan bumi yang mereka injak ditilami rumput-rumput hijau segar sehalus beludru. Akan tetapi setiba mereka di puncak yang dikelilingi batu-batu putih berjajar seperti menara, di tanah datar yang halus itu mereka mendapat kenyataan bahwa dua rombongan orang telah berada di situ, mendahului mereka.
Ha-ha-ha, kalian terlambat, sehabat-sahabat Kun-lun-pai! Siapa terlambat takkan dapat, bukankah begitu kata peribahasa, Ang Kun Toyu? tegur seorang laki-laki pendek gendut berusia enam puluhan, berpakaian sebagai petani sederhana dengan kepala dilindungi caping lebar. Di belakang si gendut ini berdiri enam orang petani lain, kesemuanya sudah lima puluh lewat usianya, sikap mereka sederhana seperti pakaian mereka, namun jelas tampak kegagahan pada pandang mata mereka.
Siancai…. siancai…. Ang Kun Tojin mengucapkan puja-puja sambil merangkapkan kedua tangan ke depan dada memberi hormat, diikuti oleh empat orang adik seperguruannya. Tidak dinyana sahabat Kok Bin Cu dari Hoa-san-pai sudah hadir. Selamat Musim Semi, Sicu (Orang Gagah)..

Cinta Bernoda Darah, by Kho Phing Hoo 2/446 | Previous page | Next page |