Istana Pulau Es, by Kho Phing Hoo 2/542 | Previous page | Next page |

ISTANA PULAU ES Karya Kho Ping Ho JILID 5


“Eh, Ibu! Ada apakah?” Maya yang berhati keras dan tabah itu mendesak ibunya, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan karena ia ingin tahu siapa yang menyebabkan ibunya berduka. Biar dewa sekalipun akan dilawannya kalau dewa membuat ibunya berduka!

Puteri Mimi yang cantik jelita itu menghela napas. Wajahnya yang berkulit halus dan biasanya berwarna kemerahan, kini pucat dan alisnya berkerut tanda bahwa hatinya diliputi kegelisahan.

“Seharusnya Ayahmu menikah dengan Mutiara Hitam. Hal ini sudah dikehendaki para dewa semenjak mereka berdua belum lahir. Akan tetapi, ahhh…. nenekmu menghendaki lain. Ayahmu dikawinkan dengan orang lain. Tentu saja dewa menjadi marah dan sekaranglah tiba kutukannya menimpa keluarga kita.” Kembali puteri ini menangis.

“Ibu, kutukan apakah itu? Apa yang terjadi?”

“Semenjak nenekmu, Ratu Yalina, meninggalkan Khitan bersama kakekmu, negara kita selalu dirundung kemalangan. Bencana alam dan perselisihan antara bangsawan mengakibatkan penderitaan, namun semua itu masih belum seberapa, masih dapat diatasi oleh kebijaksanaan ayahmu. Akan tetapi sekarang…. ahh, beberapa orang bangsawan memberontak dan bersekutu dengan suku bangsa Yucen, ada yang menyeberang kepada suku bangsa Mongol dan Mancu, ada pula yang bersekutu dengan Kerajaan Sung dan kini mereka itu mengepung kita. Ayahmu sendiri berusaha menginsyafkan mereka dan mengajak damai bangsa Yucen, namun agaknya sia-sia belaka maka jalan satu-satunya hanyalah mempertahankan Negara Khitan.”

Muka Maya menjadi merah, kedua tangannya dikepalkan. “Mengapa berduka, Ibu? Kalau musuh datang kita lawan!”

Melihat sikap puterinya, di dalam tangisnya Puteri Mimi tersenyum dan merangkulnya. “Engkau mewarisi sifat-sifat nenek dan kakekmu…. akan tetapi…. musuh terlalu banyak dan terlalu kuat. Betapapun juga, benar katamu, Anakku, kita akan melawan!”

Hati Ratu ini dibesarkan oleh sikap puterinya. Ia tidak tahu bahwa pada waktu itu, bangsa Mongol sudah menjadi bangsa yang amat kuat dan bangsa ini mulai memperkembangkan sayapnya bagaikan gelombang besar datang menelan segala sesuatu yang merintang di depannya!

Benar seperti yang dikatakan Puteri Mimi kepada anaknya. Raja Khitan memang sedang berusaha keras untuk menghindarkan perang. Pelbagai usaha dilakukannya, akan tetapi para bangsawan Khitan yang memberontak itu tidak mau mendengar, dan bangsa Yucen yang bergerak dari barat itu pun tidak mau diajak damai. Melihat keadaan yang amat mendesak, bahwa perang takkan dapat dihindarkan. Raja Khitan mengadakan rapat pertemuan dengan para panglima.

“Jalan sudah buntu! Kita adalah bangsa yang besar dan biarpun selama ini kita mengalami nasib malang, namun semangat kita tak pernah padam! Kalau memang mereka menghendaki perang, apa boleh buat, kita terpaksa mengadakan perlawanan. Hanya aku menyesal sekali akan kebodohan bangsa Yucen, terutama para. bangsawan Khitan yang memberontak. Tidakkah mereka melihat datangnya bahaya hebat yang akan melanda kita semua? Bangsa Mongol jelas sekali memperlihatkan sikap hendak merajai seluruh daratan! Biarlah, kita akan mengadakan perlawanan!” Raja ini lalu mengutus pengawal untuk mendatangkan bala bantuan dari kota raja, membawa perlengkapan perang dan diam-diam ia pun menulis sepucuk surat kepada isterinya.

“Bahaya besar mengancam kemusnahan kerajaan kita, Isteriku. Akan tetapi, kalau memang para dewa menghendaki demikian, biarlah aku musnah bersama kerajaanku. Aku akan mempertahankan kerajaan yang diberikan oleh leluhur kepadaku itu dengan jiwa ragaku! Akan tetapi engkau Isteriku, dan puteri kita Maya, jangan ikut menjadi korban. Bawalah puteri kita itu ke Pegunungan Gobi, carilah ayah bundaku yang bertapa disana, minta perlindungan!” Demikian antara lain isi surat Raja ini kepada isterinya. Dan surat inilah yang membuat Puteri Mimi menangis, penuh cinta kasih dan keharuan kepada suaminya yang begitu gagah perkasa sehingga dalam menghadapi bahaya besar, tidak menyuruh dia pergi mencari pertolongan melainkan menyuruh dia dan anaknya pergi menyelamatkan diri, dan dengan sifat penuh kejantanan menghadapi bahaya seorang diri!

“Aduh, Suamiku tercinta,” demikian Puteri Mimi mengeluh, “Lupakah engkau bahwa aku pun anak dan keturunan Panglima Khitan yang setiap saat siap dan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela negara? Tidak, aku pun akan menjaga kerajaan dan merupakan benteng pertahanan terakhir. Kalau kerajaan runtuh, bukan hanya engkau, aku pun harus ikut runtuh pula! Biarlah anak kita yang akan kuusahakan agar menyingkir dan menyelamatkan diri.” Diam-diam Puteri Mimipun sudah mempunyai rencana dan menantilah dia akan perkembangan dengan hati gelisah namun tetap bersikap tenang.

Istana Pulau Es, by Kho Phing Hoo 2/542 | Previous page | Next page |

Leave a Reply