JODOH RAJAWALI Karya Kho Ping Ho JILID 10
Sungguh kaisar tua itu telah linglung. Dia sama sekali tidak tahu bahwa penghentian Jenderal Kao ini membuat para panglima dan gubernur yang berkuasa di propinsi-propinsi yang berjauhan, yang menganggap diri sendiri sebagai raja-raja, bersorak kegirangan dan menjadi lega hati mereka. Betapa tidak? Jenderal Kao seoranglah yang mereka takuti sehingga mereka masih belum berani memisahkan diri secara berterang. Mereka merasa ngeri kalau membayangkan betapa Jenderal Kao yang galak dan pandai itu membawa pasukan menghukum mereka. Akan tetapi kini Jenderal Kao sudah dihentikan dari jabatannya, sudah dipensiun dan menjadi rakyat biasa! Jenderal Kao tanpa pasukan bukan merupakan tokoh yang menakutkan lagi.
Malam itu bulan purnama tersenyum cerah di angkasa. Tiada awan nampak menghalangi sinar bulan yang lembut dan bulan yang bundar itu seperti sebuah bola emas tergantung di langit biru. Malam hening dan sejuk sungguhpun tiada angin menggerakkan daun-daun pohon yang mengapit lorong di dalam hutan itu. Dan celah-celah daun, sinar bulan menerobos dan menerangi lorong yang ditilami daun-daun kering yang lunak dan agak lembab di malam itu.
Malam sudah agak larut, akan tetapi di lorong itu masih ada serombongan orang yang bergegas jalan tanpa berkata-kata, di tengah-tengah mereka terdapat beberapa orang yang memikul tandu-tandu. Kalau datang dari jurusan ini, lorong melalui hutan itu merupakan jalan satu-satunya yang terdekat untuk memasuki daerah Kang-lam. Melihat orang-orang yang berjalan di depan dan di belakang rombongan tandu itu berpakaian seragam, dan selalu siap memegang golok dan tombak,, mudah diduga bahwa rombongan itu tentulah rombongan pembesar dan mereka itu tentu pasukan pengawal.
Dugaan ini memang tidak keliru karena rombongan itu adalah rombongan Jenderal Kao Liang dan keluarganya. Setelah dipensiun dan dihentikan dari jabatannya, jenderal ini maklum bahwa dia tidak berdaya lagi untuk bertindak sebagai jenderal, maka dia lalu mengumpulkan semua harta miliknya, dan mengajak keluarganya untuk menlnggalkan kota raja, kembali ke tempat kelahirannya atau tempat kampung halamannya, yaltu di daerah Kang-lam. Dan ingin mendinginkan hati dan pikirannya yang panas, kemudian baru hendak memutuskan apa yang dapat ia lakukan untuk negara dan bangsanya dalam keadaan seperti itu.
Tiba-tiba tirai penutup tandu yang paling depan tersingkap dan terdengarlah suara yang berat dan penuh wibawa, yang ditujukan kepada seorang bertubuh tinggi kurus yang memakai pedang di pinggangnya, yaitu kepala pengawal yang jumlahnya dua losin orang itu.
Kepala pengawal! Kita berhenti sebentar di sini agar para pemikul tandu dapat beristirahat.
Kepala pengawal itu sambil masih berjalan mengiringkan tandu itu membungkuk dan berkata, nada suaranya sungguh-sungguh, Yang Mulia, tidakkah lebih baik kalau kita melanjutkan perjalanan sampai kita keluar dari hutan ini baru beristirahat? Di dalam hutan begini keadaannya amat berbahaya karena bahaya dapat muncul dari mana-mana tanpa kita ketahui, tersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak, berbeda kalau berada di tempat terbuka di mana kita dapat menghadapi ancaman bahaya secara terbuka. Daerah ini terkenal sebagai daerah yang sering diganggu oleh penyamun-penyamun yang berkepandaian tinggi.
Hemmm…. siapakah yang kaumaksudkan dengan penyamun-penyamun berkepandaian tinggi? Mana ada penyamun berkepandaian tinggi kalau mereka itu bukan bekas orang-orangnya Tambolon? Ataukah dari golongan lain? Bukankah kabarnya mereka semua sudah dihalau dan dibasmi oleh Pendekar Super Sakti dan kedua anak dan mantunya, Puteri Milana dan pendekar sakti Gak Bun Beng?
Paduka belum mengetahui perkembangan yang terjadi di dunia hitam selama satu dua tahun ini. Di daerah ini pernah terjadi bentrokan-bentrokan hebat antara dua golongan hitam, yaitu golongan perampok Gunung Cemara di sebelah selatan lembah melawan golongan bajak di timur lembah, di sepanjang Sungai Huang-ho.
Hemmm, sungguh menarik ceritamu. Lalu bagaimana akhir pertempuran di antara mereka? tanya orang tua bersuara berat dan berwibawa itu yang bukan lain adalah Jenderal Kao Liang sendiri.
Pertempuran itu hebat dan makan banyak korban di antara kedua fihak, akan tetapi setelah muncul seorang Pendekar berambut putih yang sangat lihai dan melerai di antara mereka, pertempuran segera berhenti dan berakhir.
Pendekar rambut putih? Ho-ho, itulah Pendekar Super Sakti! Jenderal Kao Liang berseru sambil tertawa girang.

Jodoh Rajawali, by Kho Phing Hoo 2/809 | Previous page | Next page |