Kisah Sepasang Rajawali, by Kho Phing Hoo 2/840 | Previous page | Next page |

KISAH SEPASANG RAJAWALI Karya Kho Ping Ho JILID 9


“Bu-te, cepat bantu. Berbahaya kalau begini, kurasa akan ada badai!” Kian Lee yang mengemudikan perahu dengan dayungnya berteriak lagi.

Mendengar disebutnya “badai”, otomatis Kian Bu menghentikan teriakan-teriakannya dan air mukanya berubah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggulung layar dan membantu kakaknya mendayung sambil berbisik, “Benarkah ada…. badai, Lee-ko?”

“Entahlah, mudah-mudahan saja tidak,” jawab kakaknya. “Dan payahnya, mungkin kita salah jalan, Bu-te. Mengapa belum juga nampak daratan besar?”

Dua orang kakak-beradik ini memang agak gentar terhadap badai. Pernah ayah mereka bercerita betapa hebatnya kalau badai telah mengamuk di daerah lautan ini. Bahkan menurut cerita ayahnya, Pulau Es sendiri pernah diamuk badai sampai tenggelam di bawah permukaan air laut! Betapa mengerikan. Kata ayah mereka, dahulu pulau mereka itu merupakan sebuah kerajaan, akan tetapi semua penghuninya dibasmi habis oleh badai dan hanya tinggal bangunan istananya saja. Biarpun mereka berdua yang sejak kecil tinggal di pulau dan tidak asing dengan lautan, bahkan ahli dalam ilmu renang, pandai pula menguasai perahu, namun mendengar tentang badai sehebat itu, mereka merasa gentar juga. Dan sekarang, berada di tengah lautan, jauh dari Pulau Es, mereka merasa ngeri kalau-kalau ada badai akan mengamuk.

“Lee-ko, bukankah daratan besar letaknya di sebelah barat?”

“Menurut ibu demikian dan tadi aku sudah mengarahkan perahu ke barat. Akan tetapi, angin kencang mengubah haluan dan kita agaknya menyimpang ke utara. Awas, Bu-te, angin makin kencang!”

Kedua orang pemuda tanggung itu kini tidak bicara lagi, melainkan menggerakkan dayung dengan hati-hati untuk mengemudikan perahu mereka yang mulai dipermainkan ombak. Makin lama angin makin kencang bertiup dan ombak makin membesar sehingga perahu mereka diombang-ambingkan seperti sebuah mainan kecil dipermainkan tangan-tangan raksasa! Mereka tidak dapat lagi menentukan arah, hanya mempergunakan tenaga melalui dayung untuk menjaga agar perahu mereka tidak sampai terbalik.

“Tenang saja, Bu-te….” di tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee berkata kepada adiknya.

Kian Bu tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Lee-ko, harap jangan khawatir.”

Dua orang pemuda tanggung itu memang memiliki nyali yang amat besar. Biarpun keadaan mereka cukup berbahaya, namun keduanya masih tenang saja, percaya penuh akan kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

“Dukk! Dukk!”

“Apa itu….?” Kian Bu berteriak kaget, cepat menggerakkan dayung untuk membantu kakaknya mengatur keseimbangan perahu yang tadi terpental seolah-olah ditabrak sesuatu.

Kisah Sepasang Rajawali, by Kho Phing Hoo 2/840 | Previous page | Next page |

Leave a Reply