KISAH SI BANGAU PUTIH Karya Kho Ping Ho JILID 14
Kao Kok Cu, juga ikut tersenyum kemudian dia yang biasa bersikap serius, berkata dengan halus namun meyakinkan, Memang, waktu berjalan dengan cepatnya dan tahu-tahu kita semua telah menjadi tua, sudah masak untuk meninggalkan dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kita menyelidiki pada diri sendiri, kebaikan dan kegunaan apa saja yang pernah kita lakukan untuk mengisi kehidupan kita yang tidak berapa panjang ini?
Ucapan ini membuat Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio termenung sampai beberapa lamanya. Mereka terbenam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Tiong Khi Hwesio berkata. Omitohud Kao-taihap, ucapanmu itu menggugah semua kenangan lama dan pinceng melihat betapa selama hidup pinceng itu, jauh lebih banyak dukanya daripada sukanya dan jauh lebih banyak buruknya daripada baiknya perbuatan pinceng. Perbuatan buruk itu pinceng lakukan karena dorongan nafsu, sedangkan perbuatan baik pun menyembunyikan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Omitohud, kalau dikaji benar, tidak ada baiknya perbuatan pinceng
Aih, jangan kau berkata demikian, Tek Hoat. Aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, engkau berjiwa pendekar yang gagah perkasa. Kalau tidak demikian, mana mungkin enci Syanti Dewi sampai tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu? Engkau terlalu merendahkan diri sendiri, kata Wan Ceng. Banyak sudah kegagah an kaulakukan karena memang watakmu yang gagah perkasa, seperti seorang pen dekar sejati, tanpa pamrih.
Tapi…. tapi …. kalau pinceng ingat sekarang, semua perbuatan itu pinceng lakukan demi cinta pinceng kepada mendiang isteriku, Syanti Dewi. Andaikata tidak ada Syanti Dewi, tidak ada cintaku terhadapnya…. ah, tidak tahulah aku, apa yang akan terjadi dengan diriku…. Tiong Khi Hwesio nampak termangu.
Kao Kok Cu menarik napas panjang. Memang demikianlah keadaannya. Kita tidak pernah bebas. Perbuatan kita tidak pernah bebas daripada pamrih. Karena ikatan-ikatan maka kita selalu berbuat dengan pamrih di belakang perbuatan itu, membuat semua perbuatan kita palsu adanya. Betapapun baiknya suatu perbuatan itu menyembunyikan pamrih, maka perbuatan itu adalah suatu kejahatan pula, karena perbuatan itu hanya menjadi semacam cara untuk mendapatkan hasil yang kita kehendaki.
Tiong Khi Hwesio juga menarik napas panjang. Omitohud, bijaksana sekali ucapanmu itu, Kok-taihiap. Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan kita tidak menyembunyikan pamrih?
Bukankah pamrih itu muncul dari ikatan kepada sesuatu? Ikatan inilah yang menjadi pamrih dalam perbuatan kita. Karena itu, satu-satunya kebenaran adalah kebebasan! Sebelum bebas dari semua ikatan, tak mungkin perbuatan kita benar, dalam arti yang sedalam-dalamnya. Kita harus berani bebas, harus berani sendirian, karena bersendirian ini merupakan kenyataan hidup. Masing-masing dari kita membawa kehidupan sendiri-sendiri dan akan mengakhiri kehidupan ini sendiri-sendiri pula. Kita takut bersendirian, melihat kenyataan betapa kita ini masing-masing kosong, lemah tak berarti, maka timbullah rasa takut dan kita lalu mencari pegangan, mencari ikatan sebanyaknya agar si aku tidak kehilangan pijakan. Kita memperbanyak ikatan yang kita anggap mendatangkan kekuatan dan mendatangkan hiburan, seperti orang takut terhadap setan lalu mencari banyak teman. Padahal, ikatan-ikatan inilah pangkal semua kesengsaraan.
Wan Ceng yang sejak tadi mendengar kan, mengerutkan alisnya. Sudah sering ia bercakap-cakap dengan suaminya ten tang hal ini, dan masih juga merasa sukar untuk dapat menangkap maknanya yang tepat. Kini ada Tiong Khi Hwesio di situ, maka ia mengajukan bantahannya lagi agar dapat lebih mudah menyelidiki dan mengerti.
Akan tetapi, kalau kita membiarkan diri bebas dari ikatan, lalu mana ada cinta? Apakah kita harus bersikap tidak peduli, apakah kita harus meniadakan kewajiban-kewajiban dan hidup dengan sikap acuh dan masa bodoh?
Suaminya tersenyum, senyum penuh kasih yang selalu ditujukan kepada is terinya. Sudah sering isterinya memban tah seperti ini, dan dia tahu bahwa isterinya masih belum mengerti benar dan kini minta dukungan Tiong Khi Hwesio terhadap sanggahan atau bantahannya itu.
Benar sekali, Kao-taihiap, seperti apa yang dikemukakan isterimu. Agaknya, kebebasan seperti ini, seperti yang kau katakan tadi berlawanan dengan tugas- tugas dalam kehidupan ini, seperti ke wajiban terhadap keluarga, terhadap masyarakat, pemerintah dan sebagainya. Bukankah kalau sudah bebas dari segalanya seperti itu, kita lalu menjadi acuh dan hidup seperti boneka saja?
Kao Kok Cu tersenyum dengan penuh kesabaran. Dia tahu betapa sukarnya mempelajari hidup, betapa sukarnya mem buka mata melihat kenyataan hidup seperti apa adanya. Dia sendiri pun baru- baru saja, dalam usia tua renta, dapat melihat kenyataan ini dengan waspada.

Kisah Si Bangau Putih, by Kho Phing Hoo 2/360 | Previous page | Next page |