PENDEKAR MATA KERANJANG Karya Kho Ping Ho JILID 9
Akan tetapi dua orang pelayan wanita yang berada di dalam kamar ke dua, ternyata belum pulas benar. Suara jebolnya daun pintu mengejutkan mereka. Keduanya bangkit duduk dan terbelalak memandang ke arah daun pintu yang sudah jebol. Ketika mereka melihat munculnya seorang wanita yang bermuka pucat dingin di tengah ambang pintu mereka terkejut dan ketakutan. Akan tetapi wanita itu pun sudah menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam menyambar ke arah dua orang pelayan wanita. Seorang di antara mereka sempat menjerit kecil sebelum ia roboh ke atas pembaringan kembali seperti temannya dan tubuh mereka berkelojotan lalu terdiam, mati. Sinar lampu di ruangan luar kamar itu kini menyinari dua muka pembunuh itu. Wajah seorang laki-laki yang kurus akan tetapi cukup tampan, kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah, bersatu dengan jenggotnya yang pendek dan sudah berwarna dua. Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajah wanita itu pucat akan tetapi cantik, dengan hidung dan mulut yang membayangkan keangkuhan. Kini mereka saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka itu bagi orang lain tentu mengerikan karena seperti senyum iblis yang mengandung kekejaman.
Kini dua ekor anjing yang berlari dari belakang, datang sambil menggonggong dan hendak menyerang dua orang itu. Akan tetapi, dua orang itu menggerakkan tangan seperti orang menampar ke arah dua ekor anjing itu dan suara anjing itu pun terhenti seketika dan mereka pun terpelanting dan tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah. Dua orang itu lalu berkelebatan di belakang rumah. Beberapa kali terdengar suara ayam berkeyok dan jerit pendek babi-babi yang berada di kandang belakang. Kalau saja air hujan rintik-rintik tidak membuat suara gaduh di atas genteng, agaknya dua orang suami isteri yang sedang bersamadhi itu akan dapat
mengetahui akan datangnya dua orang penyebar maut itu. Betapapun tinggi ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang dimiliki tamu-tamu gelap itu, agaknya pendengaran suami isteri yang sedang bersamadhi itu akan mampu menangkapnya, karena pendengaran mereka amat tajam dan terlatih dengan baik. Suara gaduh yang ditimbulkan air hujan yang merintik di atas genteng menutupi semua suara lain. Akan tetapi jerit pelayan wanita tadi masih dapat menembus celah-celah dan memasuki kamar.
“Suara apa itu?” Ma Kim Li bertanya, sadar dari samadhinya. Suaminya juga sudah membuka mata dan memandangnya, menggeleng kepala. Akan tetapi karena tidak terdengar suara apa-apa lagi yang mencurigakan, mereka pun merasa lega. “Mungkin mereka mengigau dalam tidur ,” kata Siangkoan Leng, sama sekali tidak menduga buruk karena selama bertahun-tahun ini tidak pernah terjadi sesuatu menimpa keluarganya.
Akan tetapi kelegaan hati mereka itu tidak berlangsung lama. Kecurigaan hati mereka kembali diusik ketika terdengar gonggong kedua ekor anjing peliharaan mereka, apalagi ketika suara menggonggong kedua ekor anjing itu tiba-tiba saja terhenti. Hal ini tidak wajar, pikir mereka. dari pandang mata saja kedua suami isteri itu sudah saling sepakat untuk melakukan penyelidikan. Berbareng mereka meloncat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu dan keluar dari dalam kamar. Pertama-tama.mereka membuka daun pintu putera mereka dan melihat betapa putera mereka masih duduk bersila, akan tetapi agaknya juga terganggu oleh suara gonggongan anjing-anjing itu.
“Anjing-anjing itu kenapa, Ibu?” tanya Siangkoan Hay yang sangat menyayang anjing peliharaan mereka.
“Kau di sinilah, kami akan melihat ke belakang.” kata ibunya. Mereka lalu keluar dari kamar itu, menutupkan kembali daun pintunya dan dengan langkah ringan namun cepat, suami isteri itu lalu berlari ke belakangDan apa yang dilihatnya pertama-tama membuat mereka terbelalak dan wajah mereka berubah. Dua ekor anjing peliharaan mereka yang setia itu telah menggeletak mati dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah! Siangkoan Leng cepat menghampiri dan sebagai seorang ahli pengobatan, begitu meraba, tahulah dia bahwa dua ekor anjing itu tewas karena pukulan yang amat ampuh, pukulan yang tidak membekas pada kulit anjing akan tetapi yang merusak bagian dalam sehingga dua ekor binatang itu tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah.
Jeritan tertahan isterinya membuat Siangkoan Leng cepat meloncat dan menghampiri dua kamar itu. Dia menahan napas melihat betapa empat orang pelayan itu pun sudah tewas dan ketika mereka berdua melakukan pemeriksaan, mereka semakin terkejut akan tetapi juga marah sekali karena empat orang itu tewas dengan leher menghitam dan membengkak, tanda bahwa mereka telah dibunuh dengan menggunakan senjata rahasia jarum yang mengandung racun jahat!
Mereka saling pandang dengan mata terbelalak. “Perbuatan siapa ini.?” Bisik isterinya.
Suaminya menggeleng kepala, akan tetapi kelihatan marah. “Mari kita mencarinya!” Mereka berlompatan ke belakang dan ketika melakukan pemeriksaan mereka menemukan semua binatang peliharaan mereka, babi, ayam, bahkan seekor kucing, telah mati semua! Tidak ada seekor pun binatang peliharaan mereka yang masih hidup!
“Cepat, ana kita.! Ma Kim Li setengah menjerit ketika teringat anaknya dan seperti berlumba saja kedua orang suami isteri itu berlari kembali ke dalam ruangan besar dan segera menuju ke kamar anak mereka. Daun pintu masih tertutup dan dengan hati penuh ketegangan Ma Kim Li yang datang lebih dulu dari suaminya itu cepat mendorong daun pintu. Legalah hatinya melihat betapa puteranya masih duduk bersila seperti tadi!
“Eh, ada apakah Ibu? tanya Siangkoan Hay, terkejut melihat cara masuknya ibu dan ayahnya itu dan melihat wajah mereka pucat, dibayangi ketegangan dan kegelisahan.

Pendekar Mata Keranjang, by Kho Phing Hoo 2/964 | Previous page | Next page |