PUSAKA PULAU ES Karya Kho Ping Ho JILID 17
“Bahaya sudah lewat, jangan takut,” katanya dalam bahasa Khitan dengan suara lembut.
Gadis itu memandang kepadanya dengan sepasang mata seperti seekor kelinci. “Kau…. kau…. telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman bahaya maut….”
Pangeran Tao Seng tersenyum, menyimpan pedangnya dan tangan kirinya masih merangkul pinggang. Lalu tangan kanannya mengambil sehelai saputangan dan berbisik, “Pipimu bernoda darah….!” Dia mengusap pipi kiri itu dengan saputangan dan membersihkan darah itu, dan dia terpesona! Setelah muka itu menjadi bersih dari darah, barulah nampak betapa cantiknya wajah itu! Cantik segar bagaikan setangkai mawar hutan tersiram embun pagi. Kedua pipi yang segar kemerahan dan halus mulus, sepasang mata yang lebar dengan sinar yang jernih hidung kecil mancung dan mulut yang setengah terbuka itu nampak indah, dengan deretan gigi mengintai dari balik bibir yang merah basah.
“Aduh, engkau cantik sekali, Nona. Bidadari dari sorgakah engkau?”
Gadis itu tiba-tiba tertawa. Lenyaplah semua rasa kaget dan ngeri tadi, dan ia merasa lucu dan senang. Pemuda yang telah menyelamatkannya dari ancaman maut itu adalah seorang pemuda yang ganteng dan gagah, dan bicaranya lucu, pandai berbahasa Khitan pula.
“Kalau aku seorang dewi dari sorga, tentu engkau seorang dewa dari kahyangan,” katanya sambil melepaskan rangkulan pemuda itu.
Pangeran Tao Seng tertawa dan nampak deretan giginya yang bersih dan kuat. Dia nampak semakin tampan kalau tertawa dan agaknya hal ini diketahuinya benar, maka dia pun tertawa dengan bebas dan lepas.
“Ha-ha-ha-ha-ha, engkau pandai bicara, Nona. Aku beruntung sekali hanya manusia biasa seperti engkau, manusia yang bisa jatuh cinta! Siapakah engkau, Nona? Dan mengapa berada seorang diri di hutan liar ini? Melihat pakaian dan kudamu, tentu engkau bukan gadis Khitan sembarangan, sedikitnya tentu puteri kepala suku!”
“Hemmm, ternyata engkau selain gagah perkasa juga amat pandai mengenal orang. Aku Silani, puteri kepala suku Khitan di daerah ini. Dan engkau sendiri, siapakah? Engkau seperti bukan orang Khitan, akan tetapi engkau pandai bahasa kami dan pakaianmu sangatlah indahnya. Engkau seorang bangsawan, ya? Aku pernah melihat bangsawan-bangsawan yang datang berkunjung kepada ayahku. Ayahku Khalaban, kepala suku yang terkenal gagah perkasa.”
“Engkau pun pandai menduga. Aku adalah sorang pangeran kerajaan Ceng, namaku Pangeran Tao Seng.”
Gadis itu nampak terkejut. “Ah, seorang pangeran?” Matanya bersinar-sinar. “Betapa gagahnya!”
“Aha, benarkah? Benarkah engkau menganggap aku tampan dan gagah? Aku pun melihat engkau sebagal seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali, Silani, betapa akan amat mudahnya bagiku untuk jatuh cinta padamu”

Pusaka Pulau Es, by Kho Phing Hoo 2/296 | Previous page | Next page |