Sepasang Pedang Iblis, by Kho Phing Hoo 2/654 | Previous page | Next page |

SEPASANG PEDANG IBLIS Karya Kho Ping Ho JILID 8


Heh-heh, Sute! Siapa sih orangnya yang berani menentang Thian-liong-pang? Selama negeri dalam perang, kita tidak bergerak akan tetapi memupuk kekuatan sehingga kalau partai-partai lain hancur dan rusak oleh perang, partai kita malah makin kuat. Sekarang tibalah saatnya Thian-liong-pang memperlihatkan taringnya! Pangcu menginginkan bocah itu, siapa yang akan berani menentang?

Si Mata Sipit mengangguk-angguk. Engkau benar, Suheng. Keinginan Pangcu kita merupakan keputusan yang tak boleh ditentang siapapun juga. Yang menentangnya berarti mati, seperti lima orang kasar ini. Thian-liong-pang adalah partai terbesar dan terkuat di dunia untuk masa kini.

Awas, Sute….! Tiba-tiba Si Muka Tengkorak berseru dan keduanya cepat mengelak, dengan jalan melempar tubuh ke belakang dan bergulingan karena secara tiba-tiba sekali ada enam buah hui-to (golok terbang) yang kecil akan tetapi yang menyambar amat cepat dan kuatnya, masing-masing tiga batang menyambar ke arah leher, ulu hati, dan pusar mereka! Jalan satu-satunya hanya mengelak seperti yang mereka lakukan tadi karena untuk menyambut hui-to-hui-to yang meluncur secepat itu, sungguh amat berbahaya sekali.

Dua orang anggauta Thian-liong-pang itu amat lihai, sambil bergulingan mereka menggerakkan tangan dan meluncurlah sinar-sinar hitam dari senjata rahasia bintang mereka ke arah datangnya hui-to tadi. Senjata rahasia mereka itu tadi sudah terbukti keampuhannya ketika merobohkan lima orang Fen-ho Ngo-kwi. Akan tetapi betapa terkejut hati mereka ketika melihat betapa enam buah hui-to yang luput menyerang mereka tadi kini terbang kembali amat cepatnya dan dari samping enam golok kecil itu menyambari bintang-bintang mereka. Terdengar suara keras disusul bunga api berhamburan dan enam batang golok kecil bersama bintang-bintang baja itu runtuh semua ke atas tanah. Biarpun dua orang anggauta Thian-liong-pang yang terkejut menyaksikan ini, namun hati mereka lega bahwa bintang-bintang baja mereka ternyata tidak kalah kuat sehingga hui-to-hui-to itu pun runtuh, tanda bahwa tenaga mereka tidak kalah oleh tenaga lawan yang belum tampak. Mereka segera meloncat bangun dan Si Mata Sipit memaki,

Keparat curang, siapa engkau?

Dari balik rumpun muncullah seorang laki-laki dan seorang wanita sambil tersenyum mengejek. Laki-laki itu usianya ada empat puluh tahun, berjenggot dan kumisnya kecil panjang, bajunya berlengan lebar. Yang wanita juga berusia empat puluh tahun lebih, rambutnya diikat dengan saputangan sutera putih, juga lengan bajunya lebar. Yang amat mengerikan pada dua orang ini adalah warna kulit mereka. Yang wanita kulitnya, dari mukanya sampai kulit lengannya, berwarna jambon kemerahan, sedangkan yang laki-laki kulitnya berwarna ungu kebiruan! Sungguh sukar mencari orang berkulit dengan warna seperti itu, seolah-olah kulit tubuh mereka itu dicat! Yang luar biasa sekali, bukan hanya kulit, bahkan mata mereka pun berwarna seperti kulit mereka!

Ha-ha-ha, tidak salah, tidak salah! Kabarnya orang-orang Thian-liong-pang amat sombong, dan ternyata ucapan mereka besar-besar. Ha-ha-ha! Laki-laki berkulit

Gentong kosong berbunyi nyaring, orang bodoh bermulut besar. Apa anehnya? Wanita berkulit jambon itu menyambung, bersungut-sungut dan memandang kepada dua orang murid Thian-liong-pang dengan pandang mata merendahkan.

Dua orang murid Thian-liong-pang itu memandang kepada mereka dengan mata terbuka lebar. Yang menarik perhatian mereka adalah warna-warna kulit laki-laki dan wanita itu, kemudian Si Muka Tengkorak berkata, suaranya masih membayangkan rasa kaget dan heran.

Ji-wi…. Ji-wi…. dari Pulau Neraka….?

Kini kedua orang laki perempuan itu yang terbelalak dan heran, lalu mereka saling pandang. Kemudian laki-laki bermuka ungu itu menghadapi kedua orang Thian-liong-pang dan menjura, Ahh, kiranya Thian-liong-pang memiliki mata yang tajam sekali. Pantas terkenal sebagai partai besar! Kami tidak pernah turun ke dunia ramai, kini sekali muncul Ji-wi telah dapat mengenal kami. Sungguh mengagumkan sekali! Dia lalu mengeluarkan suara yang aneh, nyaring sekali dan terdengar seperti suara burung. Dari dalam hutan di belakangnya terdengar suara siulan yang sama dan tak lama kemudian tampaklah belasan orang berlarian datang ke tempat itu seperti terbang cepatnya. Setelah dekat, dua orang Thian-liong-pang memandang dengan mata terbelalak karena kulit belasan orang ini pun aneh sekali, delapan orang berkulit hitam dan delapan orang pula berkulit merah tua!

Si Muka Tengkorak lalu bersuit nyaring dan dari sebelah belakangnya muncul pula serombongan anak buah Thian-liong-pang yang berjumlah dua puluh orang! Kedua rombongan kini berhadapan dengan sikap siap siaga menanti perintah bertanding. Akan tetapi, kakek muka ungu itu tertawa dan berkata lagi,

Sepasang Pedang Iblis, by Kho Phing Hoo 2/654 | Previous page | Next page |

Leave a Reply