SI TANGAN SAKTI Karya Kho Ping Ho JILID 16
Nyonya Fu….? tanya thaikam itu, tidak mengerti.
Nyonya muda Fu Heng, kakak iparku, isteri Pangeran Kian Tong, pengantin baru itu!
Ya Tuhan….! Wajah thaikam itu berubah pucat dan matanya terbelalak. Tapi beliau adalah kakak ipar Paduka sendiri!
Pangeran Kian Liong tersenyum pahit. Benar, akan tetapi ia pun seorang wanita, bukan? Wanita yang amat cantik, amat manis, amat mulus, dan bagaimana dengan janjimu untuk mengganti dengan nyawamu, Hok Cu?
Thaikam itu cepat mengangguk-anggukkan kepalanya sampai dahinya membentur lantai. Akan hamba laksanakan, Peduka jangan khawatir, akan hamba carikan jalan!
Tentu saja pangeran itu merasa gembira sekali. Pembantu utama yang menjadi pelayan pribadinya ini memang cerdik dan banyak akalnya. Biarpun di situ tidak terdapat orang lain, mereka berbisik-bisik ketika thiankam Siauw Hok Cu mengatur siasatnya.
Kurang lebih sepekan kemudian, sebuah kereta berhenti di halaman istana bagian putri dan wanita cantik Fu Heng turun dari kereta. Seorang dayang segera menyambutnya. Dayang itu mengaku sebagai pelayan pribadi Puteri Can Kim yang mengutusnya untuk menyambut Fu Heng.
Puteri sedang menghadap Permaisuri dan hamba diutus menyambut Paduka, katanya.
Wanita itu tersenyum dan bibirnya merekah dalam senyum manis sekali. Terima kasih, katanya sambil menggunakan saputangan untuk menghapus keringat yang membasahi lehernya. Aihh, betapa panas hawanya, ia mengeluh.
Sang puteri tadi memerintahkan hamba untuk mengantar Paduka menanti di istana pondok merah di taman, di sana lebih sejuk dan hamba telah mempersiapkan bak mandi untuk Paduka agar Paduka merasa segar kembali setelah melakukan perjalanan dengan kereta dari tempat tinggal Paduka sampai ke sini.
Oohhh, terima kasih. Sang puteri sungguh baik hati sekali! kata nyonya muda yang usianya baru sembilan belas tahun itu dengan gembira. Memang pondok merah di taman merupakan bangunan mungil indah dan saudara suaminya seringkali mengajak ia bersenang-senang di tempat itu. Nyonya muda itu lalu dikawal oleh beberapa dayang menuju ke ruang depan, kemudian rombongan itu memasuki taman dan pergi ke sebuah pondok cat merah yang indah mungil.
Tak lama kemudian, Nyonya muda itu telah mandi dengan air bunga yang harum, dilayani oleh para dayang dan setelah puas membersihkan tubuh dengan air yang sejuk segar, si cantik ini duduk di depan cermin, membereskan rambutnya yang panjang, hitam dan terurai lepas. Ia merasa nyaman sekali dan bersenandung kecil di depan cermin, mengagumi kecantikan diri sendiri. Dengan pakaian kimono sutera yang diberikan dayang kepadanya, ia dapat melihat bayangan tubuhnya di cermin. Ia tidak sadar bahwa para dayang telah meninggalkannya dan bahwa ia kini seorang diri saja di dalam kamar yang indah dan lengkap itu. Kalau ia sedang bermain di istana, atas undangan Puteri Can Kim seperti sekarang ini, ia merasa amat gembira dan lupa akan kedukaan hatinya. Setelah ia menikah dengan Pangeran Kian Tong, wanita ini merasa kecewa dan menyesal sekali, membuat ia menahan kesedihannya. Suaminya itu ternyata berwajah buruk, sikapnya kasar dan sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Ia merasa menyesal kenapa orang tuanya menjodohkan ia dengan seorang laki-laki seperti itu dan merasa menyesal mengapa sebelumnya ia tidak lebih dulu melihat calon suaminya. Malam pertama merupakan pengalaman yang membuat ia menggigil ngeri kalau mengenangnya kembali. Di sini, tempat yang nyaman ini, jauh dari suaminya, ia merasa aman dan juga gembira.

Si Tangan Sakti, by Kho Phing Hoo 2/242 | Previous page | Next page |