Siluman Goa Tengkorak, by Kho Phing Hoo 2/108 | Previous page | Next page |

SILUMAN GOA TENGKORAK Karya Kho Ping Ho JILID 7


Akan tetapi pelayan itu nampak tubuhnya menggigil dan hanya menunjuk ke arah dinding di depannya.

Tuan rumah lalu mengambil sebuah tempat lilin dan mengangkat benda itu ke atas sambil mendekati dinding dan tiba-tiba mukanyapun berubah pucat ketika dia melihat sebuah gambar tengkorak merah dan agaknya, benda cair yang dipakai menggambar tengkorak itu adalah darah yang masih basah, tanda bahwa gambaran itu baru saja dibuat orang! Agaknya, pelayan tadi menyalakan lilin dekat dinding dan melihat lukisan itu, maka dia berseru kaget dan menjatuhkan tempat lilin.

Thio Ki sendiripun terkejut.

Aihh…! Para tamu berlari mendekat dan kini banyak orang mengerumuni tempat itu dan semua memandang kepada gambar tengkorak dari darah itu de-ngan muka pucat.

Sudah ada tiga kali peristiwa seperti itu, ialah gambar-gambar tengkorak darah pada rumah-rumah orang, di pintu atau dinding depan dan akibatnya, pada malam harinya ada tiga orang gadis terculik! Dan sekarang, justru pada saat gadis tuan rumah merayakan hari pernikahan-nya, terdapat gambar pada dinding rumah itu! Siluman Guha Tengkorak…! Terdengar bi-sikan seorang tamu dan semua orang menggigil ketakutan.

Nama ini, biarpun baru muncul bebe-rapa kali, telah menjadi semacam momok yang menakutkan di daerah Tai-goan dan sekitarnya.

Pengantin pria, The Si Kun yang juga tertarik dan sudah mendekati dinding itu, mengepal tinjunya.

Dia bukan seorang pemuda yang penakut dan lemah.

Sejak semula dia sudah menduga bahwa yang membuat gambar-gambar tengkorak dan menculik gadis-gadis itu adalah segerombolan penjahat.

Dan dia tidak takut karena para nelayan yang menjadi anak buahnya adalah orang-orang yang sudah biasa menghadapi kekerasan-kekerasan para penjahat dan para bajak sungai.

Biarkan dia datang! Kami akan melawannya! Bukankah begitu, kawan-kawan? teriaknya.

Belasan orang nelayan muda yang bertubuh tegap-tegap dan yang menjadi kawan-kawan pengantin pria, segera mengangkat kepalan tangan ke atas dan berteriak, Benar, kita akan lawan dia dan akan tangkap jahanam itu! Betapapun juga, para tamu sudah merasa ketakutan dan perjamuan itu dilanjutkan dalam suasana tegang.

Para tamu lalu berpamit dan seorang demi seorang bangkit dari tempat duduk, lalu berbondong-bondong minta diri dan meninggalkan ru-mah keluarga Thio.

Suasana menjadi sunyi setelah tempat itu tadinya bising dengan para tamu.

Yang masih tinggal di situ hanya dua belas orang nelayan muda yang menjadi sahabat pengantin pria.

Mereka ini masih tetap makan minum dengan gembira di tempat pesta yang sudah kosong itu.

Sementara itu, sepasang mempelai telah meninggalkan ruangan dan mendapat kesempatan untuk mengaso dalam kamar mereka karena para tamu sudah tidak bernafsu lagi untuk menggoda sepasang mem-pelai di malam pertama itu.

Seluruh keluarga Thio yang sudah memasuki kamar masing-masing tak dapat memejamkan mata karena hati mereka semua merasa tegang dan khawatir.

Atas permintaan pihak tuan rumah, duabelas orang nelayan muda, teman-teman dari The Si Kun itu kini pindah ke ruangan yang berada di luar kamar pengantin.

Mereka tetap dijamu di tempat itu, tempat yang ber-dekatan dengan kamar pengantin untuk menjaga kalau-kalau ada penjahat yang datang mengganggu.

Setelah melihat dua belas orang laki-laki muda yang bertubuh kekar itu berada di depan kamar pengan-tin, barulah hati Thio Ki merasa lega dan diapun pergi ke dalam kamamya untuk mengaso.

Namun, di dalam kamar inipun dia dan isterinya rebah de-ngan hati gelisah dan tidak dapat pulas sama sekali.

Malam semakin larut dan amat sunyi.

Terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan, suara gonggongan yang menyedihkan yang kemudian berobah menjadi suara menyeramkan.

Siluman Goa Tengkorak, by Kho Phing Hoo 2/108 | Previous page | Next page |

Leave a Reply