PENDEKAR LEMBAH NAGA Karya Kho Ping Ho JILID 4
Akan tetapi, benarkah demikian? Benarkah istana itu kosong tidak ada penghuninya? Sesungguhnya tidak demikian. Setelah semua orang meninggalkan istana itu dalam keadaan sunyi dan menyeramkan, masib nampak bekas-bekas pertempuran yang mengorbankan nyawa puluhan orang perajurit dan anak buah kedua fihak, pada malam hari itu nampak sesosok tubuh wanita berjalan seorang diri di lembah ini, sambil menundukkan mukanya dan menangis. Dia lalu menghampirl istana, memasuki istana seperti bayangan setan yang bangkit dari kuburan, langkahnya ringan namun terhuyung-huyung dan dia langsung memasuki sebuah kamar di dalam istana itu dan melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu! Terbayanglah dalam benaknya ketika dia menyerahkan dirinya, menyerahkan kehormatannya kepada seorang pemuda yang amat dicintainya, seorang pemuda yang sama sekali tidak mau mengakuinya, tidak mau menerimanya, seorang pemuda yang dijunjung tinggi, dikaguminya dan dicintainya. Pemuda gagah perkasa yang kini telah pergi pula meninggalkannya seorang diri di tempat itu, padahal dia telah menyerahkan kehormatan tubuhnya, menyerahkan cinta hatinya, bahkan pula tangan kirinya! Tangan kirinya, sebatas pergelangan tangan telah putus, dibabat putus sebagai hukuman karena dia berani menolong pemuda itu yang tadinya menjadi tawanan di situ, ketika tempat itu masih dikuasai oleh kakek dan nenek iblis Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Dan kini, Cia Bun Houw, pemuda itu, telah meninggalkannya dan tidak mau menerimanya!
Wanita itu masih muda, usianya baru dua puluh lima tahun, wajahnya manis sekali, dan pakaiannya serba merah ber potongan ketat membungkus tubuhnya yang ramping padat. Dia bernama Liong Si Kwi dan dia bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah murid tunggal dari seorang nenek yang sakti berjuluk Hek I Siankouw, seorang nenek yang selalu berpakaiain hitam dan amat terkenal di dunia kang-ouw. Sebagai seorang wanita muda yang berilmu tinggi Liong Si Kwi juga terkenal di dunia kang-ouw dan karena dia memiliki keistimewaan dan gerakan ringan dalam limu gin-kang, seperti burung terbang saja kalau dia bergerak, maka dia terkenal dunia kang-ouw dengan julukan Ang-yan-cu (Burung Walet Merah).
Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Si Kwi menolong pemuda Cia Bun Houw yang tertawan, dan karena pemuda itu diberi makanan yang bercampur racun pembangkit nafsu berahi, maka dalam keadaan seperti orang mabok itu Bun Houw lalu melakukan hubungan kelamin dengan Si Kwi. Wanita muda ini memang menaruh rasa hati cinta kepada Bun Houw, maka dia tidak menolak, bahkan dia membantu pemuda itu makin tenggelam dalam amukan nafsu sehingga terjadilah hubungan itu. Setelah sadar, tentu saja Bun Houw merasa menyesal sekali dan tentu saja dia tidak mau menerima Si Kwi sebagai kekasih atau jodohnya, dan pemuda ini meninggalkan Si Kwi yang menjadi hancur hatinya. Dia kehilangan sebelah tangan, kehilangan kehormatannya sebagai seorang gadis perawan, dan kehilangan pria yang dicintainya! Dia kehilangan segala-galanya. Gurunyapun telah tewas dalam pertempuran itu ketika gurunya membantu kakek dan nenek iblis. Keluarga dia sudah tidak punya. Dia hanya sebatangkara saja di dunia ini dan harapannya untuk hidup bahagia telah dibawa pergi oleh pemuda yang dicintainya itu.
Demikianlah, Liong Si Kwi menjadi penghuni tunggal istana Lembah Naga. Mula-mula dia memang hendak menghibur diri dengan bersembunyi di tempat sunyi itu, jauh dari dunia ramai, dengan harapan akan dapat melupakan Bun Houw, dapat melupakan kedukaannya. Akan tetapi, kegairahannya untuk hidup itu yang mulai timbul sehingga dia mulai memperhatikan dirinya dan membuat pakaian-pakaian dari bahan-bahan kain yang terdapat di dalam istana itu, mulai menyulam dan akhirnya malah merupakan tekanan hebat bagi batinnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia telah mengandung! Dia seorang perawan dan kini dia mengandung tanpa suami. Kiranya, hubungan kelamin yang dilakukannya dengan Bun Houw, dalam keadaan mabok dilanda nafsu itu, telah menghasilkan kandungan di dalam perutnya!
Makin tua kandungannya, makin tertekan rasa hati wanita yang bernasib malang itu. Bernasib malang? Benarkah NASIB yang membuat Liong Si Kwi seperti itu? Benarkah NASIB yang membuat lengannya buntung, hidupnya terasa merana, perutnya terisi kandungan anak tanpa ayah? Betapa mudahnya kita melontarkan segala peristiwa yang menimpa diri kita kepada nasib! Nasib baik, nasib baik dan sebagainya! Tidak ada sesuatu terjadi tanpa sebab, dan sebab itu sama sekali bukanlah nasib! Sebab itu pada hakekatnya SUDAH PASTI timbul dari hasil perbuatan kita sendiri, perbuatan termasuk sikap, kata-kata, pikiran dan sebagainya. Sumber dari segala sesuatu yang terjadi pada diri kita terletak di dalam diri kita sendiri! Akan tetapi, kita tidak pernah mau memandang diri sendiri, dan kita lebih condong untuk mencari kambing hitam pada diri orang lain, pada keadaan di luar diri, atau kalau sudah kehabisan calon kambing hitam, kita lalu meraih NASIB dan menjadikannya sebagai kambing hitam! Kapankah kita mau membuka mata memandang diri sendiri di mana terdapat sumber segala rahasia hidup ini?
Setelah tahu bahwa dirinya mengandung, mulal terjadi perubahan dalam kehidupan Si Kwi. Mulailah dia merana dan tidak memperdulikan pakaiannya sehingga dia berkeliaran di sekitar Lembah Naga dengan pakaian yang kotor dan butut, dan sikapnya seperti orang yang sudah miring otaknya! Makin tua kandungannya, makin tersiksa rasa hatinya dan hampir setiap malam, di waktu tubuhnya mengaso dan tidak ada hiburan yang membuatnya terlupa, dia menangis mengguguk seorang diri di dalam kamarnya di istana yang besar itu.
Ada terpikir oleh Si Kwi untuk mengakhiri penderitaan batinnya dengan jalan membunuh diri saja. Akan tetapi, dia tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu. Ataukah dia masih terlampau sayang kepada kehidupan ini dan masih mengharapkan untuk kelak menemui kebahagiaan? Apapun juga alasannya, Si Kwi tidak sampai hati untuk membunuh diri, maka dia rela hidup menderita, penuh kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana dia harus menghadapi kelahiran anak dalam kandungannya. Untuk pergi ke dusun-dusun di sekitar kaki pegunungan itu, dia merasa malu sekali. Kalau ada orang bertanya mana suaminya, mana ayah dari anak yang dikandungnya, apa yang akan dijawabnya? Tidak, dia lebih baik mati dari pada harus menderita aib seperti itu di mata orang-orang lain. Tentang melahirkan, dia menyerahkan diri kepada Tuhan saja. Dalam kesengsaraan ini, satu-satunya yang menjadi pegangan Si Kwi hanyalah Thian dan kesengsaraannya itu lebih mempertebal kepercayaannya kepada Thian yang diharapkan sebagai penolongnya yang tunggal.

Pendekar Lembah Naga, by Kho Phing Hoo 2/1111 | Previous page | Next page |