Petualang Asmara, by Kho Phing Hoo 2/1493 | Previous page | Next page |

PETUALANG ASMARA Karya Kho Ping Ho JILID 2


Makin terang cahaya matahari, makin ramai suara memenuhi hutan. Ramai akan tetapi sedap didengar bagi mereka yang mampu mempergunakan telinganya untuk mendengar, seperti anak itu, sehingga dia mampu menangkap keindahan hidup dalam pendengarannya. Suara burung beraneka macam, dengan keindahan masing-masing, ada yang tinggi melengking, ada yang menciap-ciap pendek, ada yang rendah parau, namun sukar membedakan mana yang lebih indah bagi telinga yang mendengarkan tanpa perbandingan sehingga tidak ada lagi istilah baik dan buruk! Di antara lomba suara burung ini, kadang-kadang terdengar kokok ayam hutan, dan sayup-sayup terdengar suara gemerciknya air dari anak sungai yang mengalir di dalam hutan, suara air bermain dengan batu-batu hitam, seperti suara gelak tawa dan kekeh manja sekumpulan anak perawan yang sedang bersendau gurau.

Kegembiraan memenuhi hati anak itu, membuat dia merasa menjadi sebagian dari alam dan keindahan itu sendiri, dan anak itu, dengan wajah tampak berseri-seri, membuka mulut dan bernyanyi! Nyanyian aneh dinyanyikan dengan wajah berseri dan suara gembira, akan tetapi kata-kata dalam nyanyian itu sendiri adalah kata-kata keluhan yang menyedihkan! Agaknya, nyanyian itulah yang dihafal olehnya, dan jelas bahwa dia bernyanyi sekedar melepaskan kegembiraan yang berkumpul di dalam hatinya, sekedar mengeluarkan suara mengikuti contoh burung-burung di dalam hutan, tanpa mempedulikan isi nyanyian yang dihafalnya di luar kepala. Dia tidak peduli akan kata-kata dalam nyanyian, karena dalam keadaan seperti dirinya di saat itu, kata-kata merupakan benda usang yang sama sekali tidak ada artinya! Baginya, yang penting bukan kata-katanya, melainkan suaranya yang menggetar nyaring penuh daya hidup!

Berbahagialah anak itu yang memiliki seni memandang dan mendengar sewajarnya. Dengan pandangan dan pendengaran wajar, penuh perhatian, penuh kasih sayang, tanpa penilaian, tanpa perbandingan, tanpa pamrih, tanpa prasangka, maka tampak dan terdengarlah olehnya segala keindahan yang tak ternilai. Lukisan-lukisan terindah di dunia ini hanya akan tampak sebagai benda lapuk saja dibandingkan dengan kenyataannya, nyanyian sajak-sajak yang paling terkenal di dunia ini hanya akan terdengar sebagai kata-kata hampa dibandingkan dengan suara alam itu sendiri jika didengarkan dengan pikiran bebas.

Suara anak itu masih lembut dan ringan seperti suara wanita. Suaranya belum pecah dan parau, menunjukkan bahwa dia belum dewasa. Namun suaranya nyaring sekali, karena dia bernyanyi dengan bebas lepas, dari dalam dadanya!

Langit di atas bumi di bawah

mengapit ketidakadilan

perut lapar minta makan

minta kepada siapa?

ayah bunda pun belum makan

semua kelaparan!

Petualang Asmara, by Kho Phing Hoo 2/1493 | Previous page | Next page |

Leave a Reply